Ayooo…Shalat Dhuha

November 16, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 1:34 pm | Doa... | -

Sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Terdapat sejumlah hadits yang menjelaskan keutamaan pelaksanaan sholat tersebut. Antara lain;

Dari Abu Hurariroh RA, ia berkata:
?Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga perkara: shaum tiga hari setiap bulan, dua rakaat sholat dhuha dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur?
(HR Bukhori 1981, Muslim 721)

Nabi Muhammad SAW bersabda :
” Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, maka tatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : ” Siapakah orang yang suka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamu sekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT. ” ( HR Thabrani )

Dari Abu Dzar RA dari Nabi SAW, beliau bersabda:
?Setiap pagi wajib untuk bershodakoh atas setiap tulang dari kalian. Maka setiap tasbih adalah shodaqoh, setiap tahmid adalah shodaqoh, setiap tahlil adalah shodaqoh, setiap takbir adalah shodaqoh, memerintahkan kebaikan adalah shodaqoh, melarang dari berbuat munkar adalah shodaqoh, dan cukup untuk menggantikan semua itu adalah dua rakaat yang dilaksanakan di waktu dhuha?
(HR. Muslim 720)

Dari Al-Qasim Asy-Syaibani, sesungguhnya Zaid bin Arqom melihat orang-orang yang sedang melaksanakan sholat dhuha. Ia pun berkata: ?bukankah mereka telah mengetahui bahwa sholat di selain waktu ini lebih utama, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ?Sholat Awwabin itu ketika kerikil-kerikil menjadi merah (isyarat yang menunjukkan bahwa matahari telah tinggi dan panasnya telah menyengat)?
(HR> Muslim 748)

Dari Ummu Hani diceritakan, sesungguhnya ia pernah datang kepada Nabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ke tempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambil pakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 ( delapan ) rakaat, yaitu Shalat Dhuha. ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )

“Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga” (H.R. Tirmiji dan Abu Majah)

Do’a selepas sholat dhuha:
“Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan- Mu”. “Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba- Mu yang shaleh”.

Pelajaran Dari Qurban

November 10, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 4:20 am | Thasawuf | -

Bertahun-tahun Ibrahim As. menanti kedatangan seorang anak yang akan
meneruskan perjuangan menegakkan agama Allah di muka bumi. Tatkala
lahir Ismail As. maka betapa senangnya hati seorang Ibrahim As.
mendapatkan buah hati, beliau As. sangat mencintainya, dan secara
manusiawi adalah wajar saja seseorang mencintai buah hatinya yang
telah ditunggu bertahun-tahun.

Namun Allah tak hendak membiarkan hambaNya mencintai seseorang
melebihi kecintaan kepadaNya. Maka Allah memberi petunjuk kepada
Ibrahim di dalam mimpi, Allah memerintahkan: “Wahai Ibrahim,
sembelihlah apa yang sangat engkau cintai!” Lalu Ibrahim memohon agar
Allah mengulangi mimpi itu sehingga tidak ada keraguan di dalam
hatinya, dan Allah mengulanginya sampai dengan malam ketiga: “Wahai
Ibrahim, sembelihlah apa yang sangat engkau cintai!” maka Ibrahim
menyampaikan mimpi itu kepada putra kesayangannya, dan Ismail As.
berkata: “Wahai Bapakku, jika itu adalah perintahNya, maka
lakukanlah, insya Allah aku termasuk golongan orang-orang yang sabar”
(QS. As Shaffaat : 102)

Maka sembelihlah apa-apa yang dapat menghalangi kecintaan kepada
Allah, karena cinta terbesar kita hanyalah kepada Allah (QS.Al
Baqarah : 165) Yang dapat mempengaruhi kecintaan kita kepada Allah
adalah hawa nafsu dan syahwat kita, sehingga tanpa sadar kita
mencintai sesuatu selain Allah karena hawa nafsu kita, bukan karena
cinta kita kepada Allah dan RasulNya.

Di dalam mimpinya, Ibrahim As. melihat dirinya sedang menyembelih
anaknya. Hal itu bisa saja terjadi kepada diri kita, di dalam
riyadhah kita melihat diri kita dikubur atau dimasukkan ke dalam
liang lahat, yang menggambarkan agar matikan kecintaan-kecintaan
kepada selain Allah karena pengaruh diri (nafs).

Kerjakan apapun yang ada di depan kita, di dalam kehidupan sehari-
hari, karena Allah semata (ikhlas) tidak ada pengaruh dari hawa nafsu
dan syahwat kita yang bersumber dari diri kita, untuk itu marilah
kita matikan diri kita (bunuh diri kita / fana, QS. 2 : 54) dan
leburlah bersama Allah, sehingga semua kehendak kita sesuai dengan
kehendakNya.

Terimalah semua nikmat Allah yang telah diberikanNya dengan rasa
syukur kepada Allah semata, dengan berkurban, yang disimbolkan dengan
penyembelihan hewan kurban, biarlah darah dan jiwa yang dikurbankan
melambangkan matinya kecintaan selain Allah yang terpengaruh oleh
hawa nafsu dan syahwat.

Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, maka Aku pun akan bekerja pula
(QS. 39 : 39) Ikhlas bekerja dimanapun kita berada, di kantor, di
lapangan, di hutan, di pasar, atau di dalam rumah sekalipun, maka
Allah akan mengatur apa-apa yang akan terjadi kemudian (tawakkal).

Setiap kali kita menghadapi persoalan hidup, pasti ada hal-hal yang
mengganjal di hati, mungkin sesuatu yang tidak mengenakkan kita, atau
mungkin sesuatu yang menurut kita tidak sesuai dengan kehendak hati
kita, maka bersabarlah di dalam menunggu ketetapanNya, karena mungkin
kehendak hati kita pada saat itu tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Sehingga hal yang paling bijaksana yang harus kita ambil adalah
bersabar dengan keadaan yang tidak selancar dengan yang kita duga
sebelumnya.

Itulah yang sering dinasehatkan oleh Bapak kepada kita semua, bahwa
kita harus selalu teliti dengan S T S I setiap saat, dan dimanapun
kita berada di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semoga kita pun
termasuk golongan yang segolongan dengan Ismail As., yaitu golongan
orang-orang yang sabar. Di dalam buku “Cinta Bagai Anggur”, ditulis:
awal kearifan adalah sabar. Untuk bisa dekat dengan Allah, maka hal
yang utama yang harus ada di dalam jiwa kita adalah SABAR.

Sabar adalah salah satu sifat Allah dari 99 sifat Allah, yaitu Ash
Shabuur ( Yang Maha Penyabar ). Saat Allah meniupkan RuhNya ke dalam
jiwa kita, maka sifat-sifat itu telah ditanamkan Allah kepada jiwa
kita, dan karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan terus menerus,
maka jiwa kita tidak dapat memancarkan cahaya Allah yang berisi sifat-
sifat baik dariNya. “Sifat-sifat baik tidak dianugerahkan kecuali
kepada orang-orang yang sabar dan yang memperoleh keberuntungan yang
besar” (QS. 41 : 53)

Orang-orang yang Mabrur adalah orang yang sabar, karena Allah
menganugerahkan semua sifat-sifat baikNya. Haji yang mabrur adalah
seorang haji yang berkemampuan untuk memancarkan sifat-sifat baik
dari dalam dirinya.

Dosa Besar itu “Bernama” Keluh Kesah

October 13, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 1:04 am | Kisah Dari Sahabat... | -

Catatan Alfathri Adlin.

Semalam aku bersumpah pula, kuangkat sumpah demi hidup-Mu,

Bahwa aku tak akan pernah memalingkan mataku dari wajah-Mu; bila Kau memukul dengan pedang, aku tak akan berpaling dari-Mu.

Aku tak akan mencari sembuh dari yang lain, karena kepedihanku ialah lantaran perpisahan dengan-Mu.

Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.

Aku bangkit dari jalan-Mu bagai debu; kini aku kembali ke debu jalan-Mu.

Dalam sebuah hadis, sayang saya hanya ingat redaksi umumnya, Rasulullah saw bersabda betapa herannya beliau terhadap keluh kesah manusia ketika mereka ditimpa kesakitan, karena seandainya manusia itu tahu bahwa kesakitan yang menimpanya merupakan wahana pembersihan, sehingga nanti saat manusia tersebut menghadap Tuhan sudah dalam keadaan bersih, maka tentu mereka akan senang menerimanya. Ketangguhan untuk menerima kesakitan apa pun sebenarnya terlihat jelas juga di kalangan sufi (dan terutama para nabi). Rasanya tak jarang para sufi dipandang secara melankolik sebagai orang yang asyik berpuisi-puisi cinta dengan Tuhan dan tidak pernah berbuat banyak dan nyata untuk manusia di sekitarnya (Insya Allah, kalau ada waktu dan umur saya ingin sekali menuliskan betapa dodolnya stereotipe klise lagi basi ini, Insya Allah). Sekarang coba perhatikan puisi Rumi di atas, apakah Anda bisa menangkap ketangguhan yang dahsyat dalam puisi tersebut? Coba amati bait kunci ‘Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.’ Bahwa semua ungkapan cinta kepada Tuhan yang banyak bertebaran dalam puisi Rumi (dan juga sufi lainnya) diimbangi dengan kesediaan mereka untuk menerima apa pun yang diperbuat Allah sebagai sang kekasih terhadap mereka sebagai para pecinta. Setiap orang bisa saja dengan mudah mengatakan “aku mencintai Rasulullah dan Allah”, tapi ‘tamparan keras’ dalam kehidupan yang mengunjunginya sehingga terlahirkanlah keluh kesah baik di lisan mau pun dalam hati menunjukkan betapa cinta itu sebenarnya belum meresap.

Apabila dibaca kisah hidup Rumi, sebenarnya terlihat jelas bahwa dia pun menghadapi sekian banyak ujian, namun tak ada keluh kesah yang terungkap dalam puisinya, semata cinta kepada Allah. Padahal dia harus menghadapi sekian fitnah dan kedengkian dari kalangan muridnya karena pertemanannya dengan Syamsi Tabriz, dia harus menghadapi kenyataan bahwa anak sulungnya pun beroposisi terhadapnya (bahkan Schimmel mencatat bagaimana Rumi pun tidak “bisa” ikut menguburkan anak sulungnya tersebut—tentu hal ini cukup menyakitkan bagi seorang ayah), dan sekian banyak fitnahan lainnya dari lingkungan sekitarnya.

Ketangguhan seperti ini bisa kita lihat juga dalam Mazmur yang ada di Alkitab milik umat Yahudi dan Nasrani. Mazmur itu merekam sekian madah dari Nabi Dawud as. Sebagaimana kita ketahui Rasulullah Saw sendiri pernah mengungkapkan bahwa dalam hal tertentu Nabi Dawud diuji lebih berat dari beliau Saw. Rasulullah memiliki keluarga dan sahabat yang taat padanya dan Allah. Sementara Nabi Dawud Saw, setelah menikah dengan anaknya Thalut (atau Saul dalam Alkitab), harus menerima keadaan bahwa dirinya difitnah hendak mengkudeta Thalut sehingga selama sekian tahun harus melarikan diri dari Thalut. Berulangkali Dawud memperlihatkan bahwa mudah saja baginya untuk membunuh Thalut, namun dia tidak mau melakukannya. Kemudian bagaimana dia dikhianati oleh istri-istrinya, bagaimana dia harus kehilangan sahabatnya, Yonatan, yang adalah kakak iparnya (putranya Thalut) karena mati dalam peperangan. Bagaimana dia harus menerima pengkhianatan dari teman-teman semeja makannya, bagaimana dia harus menghadapi kenyataan bahwa Absalom, anaknya, telah membunuh seorang saudara tirinya—saya lupa namanya—karena telah “berbuat tidak senonoh” terhadap adiknya Absalom—saya juga lupa siapa namanya (maklum, lagi di kantor dan gak megang Alkitab). Tidak hanya itu, Absalom pun di kemudian hari malah memerangi bapaknya hingga dia sendiri mati. Tidak cukup sampai di situ, Dawud pun harus melakoni skenario peristiwa dirinya “merebut” Batsyeba dari Uriah, kemudian bagaimana Dawud dimintai putusan apa hukuman bagi perkara seseorang yang memiliki 99 kambing malah mengambil satu kambing milik orang lain. Saat Dawud menjatuhkan apa putusan hukuman bagi si perebut satu kambing milik orang lain tersebut, sebenarnya Dawud tengah menjatuhkan “hukuman” untuk dirinya sendiri. Dan sekian anak yang lahir dari rahim Batsyeba akan meninggal, namun, Allah memang sebaik-baiknya Sutradara, justru dari Batsyeba inilah lahir seorang nabi Sulayman, dan bukan dari istri-istri lainnya yang dinikahi bukan dengan cara “sekontroversial” Batsyeba. Percayalah, kalau membaca seksama kisah hidup Dawud dari sumber-sumber yang ada di agama Semit, kita bisa agak sesak dada membayangkannya dan mengerti mengapa Rasulullah Saw sampai mengatakan bahwa Nabi Dawud memang diuji sekian hal yang lebih berat dari Rasulullah Saw.

Dengan brilian, Ibn ‘Arabi dalam Fushush Al-Hikam memaparkan bahwa dari namanya saja kita bisa tahu bahwa nama Muhammad dalam bahasa Arab ditulis dengan huruf yang saling tersambung, berbeda dengan nama Dawud yang ditulis terpisah-pisah antar tiap huruf, yaitu Dal, Alif, Wau, Dal, yang menunjukkan bagaimana kehidupan Dawud itu sendiri terpenggal-penggal oleh sekian ujian seperti yang bisa kita saksikan dalam alur kehidupannya. (Kalau ada yang kemudian mengomentari paparan Ibn ‘Arabi itu dengan sok hermeneutis, “Ah, itu kan cuma metode menafsirnya Ibn’Arabi aja”, maka saya cuma bisa berkomentar, “Kasihan sekali, terjebak hanya oleh satu cara pikir saja, seperti orang yang cuma punya palu, dan hanya palu, sehingga melihat segala hal sebagai paku…”)

Nah, kembali kepada Mazmur, silahkan simak madah demi madah yang tertuang di dalamnya, adakah keluh kesah terlontar dari Dawud karena sekian prahara kehidupan yang harus dihadapinya? Adakah keluh kesah karena dirinya didzalimi oleh si anu dan si anu? Itulah ketangguhan dan kekuatan sebenarnya namun seringkali teralihkan karena terbungkus oleh bentuk ungkapan-ungkapan puitis, sama seperti puisi-puisi Rumi mau pun sufi lainnya. Dalam puisinya, Rumi bahkan mengaitkan keluh kesah dengan ketidakberimanan.

Itulah sebabnya, di kalangan para sufi, keluh kesah itu termasuk dosa besar yang susah untuk dibersihkan. Apabila hati itu seperti bola kaca, maka ada dosa-dosa yang menyerupai lumpur yang menempel dan membentuk kerak di luar bola kaca tersebut. Dengan air, lumpur itu bisa kembali dibersihkan. Namun, ada dosa-dosa yang begitu halus dan kecil seperti molekul, yang masuk ke dalam pori-pori bola kaca dan mengendap di bagian inti bola kaca. Keluh kesah termasuk dosa yang halus seperti itu, karena kaitannya dengan akidah seseorang terhadap Allah. Bagaimana cara membersihkannya? Bola kaca itu harus “dibedah” dan dibersihkan bagian dalamnya. Maka tak heran, bagi kalangan pecinta Alah, keluh kesah termasuk dosa besar. Kenapa? Banyak sufi, salah satu yang saya ingat adalah Abdul Qadir Jailani, menyatakan hal yang kurang lebih sama. Begini kurang lebih. Apabila kita mengenal sekian orang, kita umumnya membuat semacam identifikasi bahwa si A itu pengghibah, si B itu pemarah, si C itu tidak percaya diri di banyak hal, dan sebagainya. Kenapa identifikasi itu lahir? Karena dalam interaksi, kita melihat bahwa itulah karakteristik yang paling dominan pada diri orang-orang tersebut. Nah, dalam hal ini, Allah Ta’ala mengidentifikasi Diri-Nya sebagai Rahman dan Rahim, yang berarti menunjukkan bahwa dua asma itulah yang paling dominan pada Dia. Dua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya sehingga diabadikan dalam rajanya doa, yaitu Bismillahi Rahmani Rahimi. Dengan Rahman dan Rahim-Nya itu pulalah maka Dia selalu menegaskan bahwa Dia hanya memberikan yang terbaik bagi manusia. Ibn ‘Arabi mengutarakan bahwa Allah memiliki dua Tangan, Tangan Kanan merepresentasikan Kepemurahan-Nya, dan Tangan Kiri merepresentasikan Kemurkaan-Nya, padahal, kata Ibn ‘Arabi lagi, sebenarnya kedua Tangan tersebut hanyalah Tangan Kanan belaka.

Nah, karena itu, sebuah keluh kesah yang terlontar pada seseorang yang mengaku sebagai pecinta Allah, atau setiap orang yang mengaku beriman—seperti disinggung Rumi di atas—secara langsung sebenarnya merupakan sebentuk ketidakmenerimaan atas segala hal yang menghampiri dalam kehidupannya sekaligus tudingan bahwa Allah Ta’ala tidak adil. Sebuah keluh kesah secara langsung menghapuskan asma Rahman dan Rahim dari Allah Ta’ala, padahal kedua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya, asma yang mengidentifikasikan sifat dominan Diri-Nya. Di sinilah saya selalu loyo sekaligus kagum kalau melihat bahwa para pecinta Allah—para sufi sejati juga para nabi—benar-benar mengajarkan tentang ketangguhan dan keberserahdirian yang gila-gilaan. Sejujurnya, meskipun masih bermental gombal dan berwatak munafik kronis lagi akut, tapi saya selalu “kabita” melihat kemilitanan para sufi dan nabi tersebut dalam mencinta dan tangguh menerima apa pun. Tidak salah kan?

Ketangguhan untuk tidak berkeluh kesah itu memang tidak mudah. Tidak pernah ada yang mengatakan hal itu mudah. Misalnya, saat menyaksikan berbagai berita tentang gempa di tanah kelahiran, saya seringkali tidak tahan dengan beberapa narasi pembawa berita yang terlalu membimbing saya untuk akhirnya berkeluh kesah dan cenderung tidak menerima. Terlebih hal itu menimpa sebagian saudara saya juga. Saya juga tidak bisa mengiyakan begitu saja bahwa itu semua adalah azab dari Allah, karena pada kenyataannya saya juga tidak tahu apa Kehendak Dia atas peristiwa ini. Saya juga tidak mau menjadi terlalu sok saintis dengan memaparkan gempa tersebut secara sok ilmiah dan seolah memperlihatkan kewarasan nalar–padahal sebenarnya lebih mirip mati rasa—dalam banyak pembicaraan.

Saya lebih membutuhkan “penguatan” seperti ketika di berita tampil seorang Bapak yang berdiri di depan sekolah anaknya yang ambruk, dan dia belum tahu apakah anaknya masih hidup ataukah sudah mati. Tapi dia malah berkata, “Kalau pun anak saya sudah mati, tidak apa-apa, Allah rupanya lebih sayang pada anak saya.” Saya tidak bisa lupa hal itu hingga hari ini. Saya hanya membayangkan apakah kalau hal itu menimpa saya, bisakah saya berkata seperti Bapak itu? Menyusul lagi sebuah berita tentang seorang lelaki yang kehilangan semua keluarganya. Kini dia sebatang kara. Saya kembali tersentak, kalau saya dalam posisi lelaki tersebut, akankah saya masih berpegang bahwa Allah itu Rahman dan Rahim. Dari situ, saya kembali teringat kepada para pecinta Tuhan, kepada para sufi dan nabi yang begitu militan dalam mencintai Allah dan tidak berkeluh kesah. Betapa dalam kondisi kematian yang begitu mudah menjemput kita, ketika bumi yang kita pijak kini begitu mudah menggeliat sewaktu-waktu tanpa kita ketahui, maka ketangguhan untuk bisa menerima apa pun dalam kehidupan ini, seperti yang diperlihatkan para sufi dan nabi tersebut, benar-benar menjadi semakin “ngabibita”. Wallahu ‘alam bi shawwab.

Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam.

(Ya Allah, ampuni kalau melalui tulisan ini, kemunafikanku malah menjadi sumber fitnah bagi khazanah agama-Mu yang agung tersebut, semoga Engkau berkenan memudahkanku untuk senantiasa menjadi lebih baik hari demi hari. Amin.)

Syawal

September 27, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 12:01 am | Uncategorized | -

Dihubungkan dengan bulan sebelumnya, maka Syawal merupakan momentum untuk lebih meningkatkan apa yang sudah terbangun di bulan Ramadan.

Amalan-amalan selama Ramadan seperti salat lail, tilawah al qur’an, mendatangi dan memakmurkan masjid, zakat, infak, sedekah dan selayaknya lah bias bertahan dalam Syawal. Peningkatan dimaksud tentu saja harus positif. Tapi selain itu, Syawal sendiri memiliki sejumlah keutamaan.

SAAT ini kita berada di bulan Syawal 1430 H. Syawal dikenal sebagai momentum kemenangan setelah berjuang sebulan penuh pada bulan suci Ramadan. Di bulan ke-10 dalam penanggalan Islam ini ada sebagian kaum Muslimin yang tidak lagi bersemangat melaksanakan amal ibadah mereka sebagaimana yang mereka kerjakan pada bulan Ramadan.

Bahkan sebagiannya lagi justru memaknai bulan Syawal sebagai awal kebebasan melakukan kemaksiatan dan pelanggaran agama lainnya. Seolah-olah bulan Syawal adalah akhir dari pelaksanaan kebaikan-kebaikan setelah bulan sebelumnya.

Masjid-masjid yang sangat semarak, shaf-shaf yang penuh terisi pada bulan Ramadan, menjadi sepi seiring dengan berakhirnya Ramadan.

Alquran yang dapat dikhatamkan, bahkan hingga berkali-kali di bulan Ramadan menjadi bacaan yang paling jarang lagi dibaca. Dari seorang yang bersemangat menjadi qari’ Alquran tiba-tiba berubah menjadi qari’ koran saja.

Dalam tinjauan Islam, bulan Syawal adalah momentum tepat untuk mengawali kebaikan yang sesungguhnya. Jika diibaratkan, Ramadan adalah bulan latihan berbuat baik dan menahan dari berbuat tidak baik, maka Syawal adalah awal kompetisi ibadah yang sesungguhnya, yang akan dilaksanakan selama 11 bulan ke depan.

Di masa hidupnya, Rasulullah saw. tidak pernah mengatakan bahwa dengan datangnya Syawal maka umat Islam boleh meninggalkan kebaikan yang sebelumnya giat dikerjakan pada Ramadan, atau memulai segala pelanggaran dan kemaksiatan.

Bahkan telah banyak ulama yang mengingatkan umat Islam agar tidak menjadi ‘hamba Ramadan’, yaitu seseorang yang hanya bertakwa pada bulan suci tersebut, namun ketika Ramadan berlalu, ia kembali berperilaku layaknya orang-orang tidak bertaqwa.

Untuk menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadan, Rasulullah saw. menganjurkan agar berpuasa selama 6 hari pada bulan Syawal, seperti sabda beliau, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dan meneruskannya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka ia seperti telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW bahkan pernah melakukan i’tikaf (berdiam di masjid untuk konsentrasi beribadah kepada Allah SWT) pada bulan Syawal seperti dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa, “Beliau juga pernah meninggalkan tempat itikafnya pada bulan Ramadan sampai kemudian beliau beri’tikaf pada 10
hari pertama bulan Syawal. (HR. Muslim).

Syawal bukan hanya sebagai momentum untuk mengawali pelaksanaan ibadah mahdlah saja, tetapi juga saat yang tepat untuk mengerjakan ibadah muamalah seperti pernikahan. Hal ini juga dicontohkan Nabi Muhammad saw ketika melangsungkan pernikahan dengan Aisyah RA. Salah satu istri Rasulullah saw
tersebut pernah berkata, Rasulullah menikahi aku pada bulan Syawal dan masuk padaku pada bulan Syawal.(HR. Muslim)

Hadis tersebut hingga kini dijadikan landasan bagi sebagian ulama seperti Imam An Nawawi yang merekomendasikan Syawal sebagai bulan yang baik untuk menikah. Sebab dengan menikah pada bulan ke-10 Hijriah, maka seseorang telah mencontoh Nabi Muhammad saw,

dan semoga pernikahan yang sesuai sunah itu menjadikan pasangan suami-istri sebagai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Walau perlu menjadi catatan bahwa bukan berarti menikah di luar bulan Syawal tidak sunah.

Syawal pun dalam tinjauan Fiqih Islam juga dikenal sebagai salah satu ‘bulan haji’ karena prosesi ibadah rukun Islam ke-5 dapat dimulai pada bulan ini. Ibadah haji yang dapat dimulai pada bulan Syawal adalah haji tamattu dan haji ifrat.

Kaum Muslimin pada bulan Syawal juga dianjurkan memperkuat semangat dalam berjuang menegakkan agama Allah swt. Dengan menjadikan Syawal sebagai awal memperkuat semangat perjuangan, Rasulullah saw bersama para pejuang Islam berhasil menaklukkan para pelanggar perjanjian dari kalangan Yahudi pada Perang Bani Qunaiqa’, yang telah menghinakan kehormatan seorang Muslimah, tahun 2 Hijriah.

Tiga tahun kemudian, pejuang Islam juga berjaya mengalahkan pasukan koalisi musyrikin Arab dan Yahudi dalam Perang Khandaq.

Dari pemaparan di atas, telah merupakan keniscayaan bagi seorang ‘alumni Ramadan’ untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan semangat ibadah dan ketaatan kepada-Nya pada bulan Syawal ini.

Sebab Tuhan yang kita sembah dengan sepenuh hati dan seikhlas jiwa pada bulan Ramadan lalu, adalah Allah swt, Tuhan yang berhak untuk kita sembah pada bulan Syawal ini, bahkan wajib kita sembah dan taati di setiap waktu dan desah nafas kita.

Syawal layak dijadikan sebagai bulan awal kebaikan yang sesungguhnya (hakiki) setelah kita ditempa selama bulan Ramadan. Dengan hadirnya bulan ke-10 penanggalan Hijriah ini godaan dan cobaan dalam melaksanaan kebaikan pasti akan semakin banyak dan berat.

Sebab hawa nafsu yang sesungguhnya akan senantiasa menggoda kita hingga 11 bulan ke depan. Sungguh tidak elok menghentikan amalan kebaikan pada bulan ini. Mari kita manfaatkan Syawal sebagai bulan awal kebaikan kita dalam beribadah kepada-Nya. Wallahua’lam.

Tentang I’tikaf

September 15, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 5:52 am | Sputar Ramadhan | -

Dalam tinjauan bahasa Arab, al-i’tikaf bermakna al-ihtibas (tertahan) dan al-muqam (menetap)[1] .

Sedangkan definisinya menurut para fuqaha adalah:

الْمُكْثُ فِي الْمَسْجِدِ بِنِيَّةِ القُرْبَةِ

Menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.[2]

Atau:

لُزُومُ الْمَسْجِدِ لِطَاعَةِ اللهِ وَالاِنْقِطَاعِ لِعِبَادَتِهِ، وَالتَّفَرُّغِ مِنْ شَوَاغِلِ الْحَيَاةِ

Menetap di masjid untuk taat dan melaksanakan ibadah kepada Allah saja, serta meninggalkan berbagai kesibukan dunia.[3]

Hukum dan Dalil Disyariatkannya I’tikaf

Hukumnya sunnah, dan sunnah muakkadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan.[4] I’tikaf menjadi wajib jika seseorang telah bernadzar untuk melakukannya.

Dalil-dalilnya:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (Al-Baqarah (2): 125).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Nabi Muhammad saw selalu i’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan pada tahun wafatnya, beliau i’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Bukhari).

قَوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ [رواه البخاري ومسلم]

Aisyah ra berkata: Rasulullah saw melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istrinya melakukan i’tikaf sepeninggal beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf seorang istri harus seizin suaminya.

Tujuan dan Manfaat I’tikaf

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tujuan disyariatkannya i’tikaf adalah agar hati terfokus kepada Allah saja, terputus dari berbagai kesibukan kepada selain-Nya, sehingga yang mendominasi hati hanyalah cinta kepada Allah, berdzikir kepada-Nya, semangat menggapai kemuliaan ukhrawi dan ketenangan hati sepenuhnya hanya bersama Allah swt. Tentunya tujuan ini akan lebih mudah dicapai ketika seorang hamba melakukannya dalam keadaan berpuasa, oleh karena itu i’tikaf sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan khususnya di sepuluh hari terakhir.[5]

Adapun manfaat i’tikaf di antaranya adalah:
Terbiasa melakukan shalat lima waktu berjamaah tepat waktu.
Terlatih meninggalkan kesibukan dunia demi memenuhi panggilan Allah.
Terlatih untuk meninggalkan kesenangan jasmani sehingga hati bertambah khusyu’ dalam beribadah kepada Allah swt.
Terbiasa meluangkan waktu untuk berdoa, membaca Al-Quran, berdzikir, qiyamullail, dan ibadah lainnya dengan kualitas dan kuantitas yang baik.
Terlatih meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bagi penghambaannya kepada Allah swt.
Memperbesar kemungkinan meraih lailatul qadar.
Waktu i’tikaf adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah dan bertaubat kepada Allah swt.

Rukun I’tikaf

Rukun i’tikaf ada empat[6] :
Mu’takif (orang yang beri’tikaf) ((المُعْتَكِفُ
Niat (النِّيَّة)ُ
Menetap (اللُّبْثُ). Tidak ada batasan minimal yang disebutkan oleh Al-Quran maupun Hadits tentang lamanya menetap di masjid. Namun untuk i’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan waktu i’tikaf yang ideal dimulai pada saat maghrib malam ke-21 sampai maghrib malam takbiran.
Tempat i’tikaf (المُعْتَكَفُ فِيهِ)

Syarat I’tikaf
Syarat yang terkait dengan mu’takif : beragama Islam, berakal sehat, mampu membedakan perbuatan baik dan buruk (mumayyiz), suci dari hadats besar (tidak junub, haid, atau nifas).
Syarat yang terkait dengan tempat i’tikaf : masjid yang dilakukan shalat Jumat dan shalat berjamaah lima waktu di dalamnya agar mu’takif tidak keluar dari tempat i’tikafnya untuk keperluan tersebut.

Yang Membatalkan I’tikaf

Kehilangan salah satu syarat i’tikaf yang terkait dengan mu’takif.
Berhubungan suami istri sebagaimana firman Allah swt:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah (2): 187)
Keluar dengan seluruh badan dari tempat i’tikaf, kecuali untuk memenuhi hajat (makan, minum, dan buang air jika tidak dapat dilakukan di lingkungan masjid).

Mengeluarkan sebagian anggota badan dari tempat i’tikaf tidak membatalkan i’tikaf sesuai dengan ungkapan ‘Aisyah ra:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُخْرِجُ رَأْسَهُ مِنَ الْمَسْجِدِ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فَأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ

Nabi Muhammad saw mengeluarkan kepalanya dari masjid (ke ruangan rumahnya) saat beliau i’tikaf lalu aku mencucinya sedang aku dalam keadaan haid. (HR. Bukhari).

Adab atau hal yang harus diperhatikan oleh Mu’takif
Selalu menghadirkan keagungan Allah di dalam hati sehingga niatnya terus terjaga.
Menyibukkan diri dengan amal yang dapat mencapai tujuan i’tikaf.
Bersahaja dan tidak berlebihan dalam melakukan perbuatan mubah seperti makan, minum, berbicara, tidur dan hal-hal lain yang biasa dilakukan di luar masjid.
Menjauhi amal perbuatan yang dapat merusak tujuan i’tikaf seperti pembicaraan tentang materi (jual beli, kekayaan dan lain-lain).
Memelihara kebersihan diri dan tempat i’tikaf serta menjaga ketertiban dan keteraturan dalam segala hal.
Tidak melalaikan kewajiban yang tidak dapat ditunda pelaksanaannya, seperti nafkah untuk keluarga, menolong orang yang terancam keselamatannya, dan lain-lain. Wallahu’alam
Catatan Kaki:

[1] At-Ta’rifat karya ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali Asy-Syarif Al-Husaini Al-Jurjani atau sering disebut dengan Al-Jurjani.

[2] Mu’jam Lughah Al-Fuqaha karya Muhammad Rawwas Qal’ah Ji 1/76.

[3] http://syrcafe. com/vb/t14459. html

[4] Sunnah muakkadah ialah sunnah yang sangat dianjurkan karena hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw.

[5] Zadul Ma’ad 2/82.

[6] Raudhah At-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin karya Imam An-Nawawi: 1/281.