Meneyerahkan Segala Urusan Hanya Kepada-Nya

January 22, 2012

editor : yoedha pamungkas @ 5:37 pm | Kembali Ke Allah | -

Diantara ciri-ciri orang yang bersandar pada amalnya adalah berkurangnya Roja’ (pengharapan pada Rahmat Allah) pada saat terjadinya Zalal (keterpurukan, kejatuhan, tergelincir, futur) (Al Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah)

Sungguh setiap manusia harus berjuang melalui sekian banyak penghalang (hijab) dalam dirinya untuk semakin mendekat kepada Allah Ta’ala. Seorang sufi bernama Bawa Muhaiyaddeen yang berasal dari Sri Lanka dan mendedikasikan 15 tahun terakhir hidupnya di Amerika Serikat bahkan menyebutkan secara detil bahwa jumlah penghalang dalam diri manusia yang diidentifikasikan sebagai evil qualities terbentang sebanyak empat ratus triliun sepuluh ribu di dalam hati kita. Dalam salah satu nasihatnya tentang qurban, beliau berkata:

“Qurban is not (only about) slaughtering chickens and cows and goats. There are four hundred trillion, ten thousand beasts here in the heart which must be slaughtered. They must be slaughtered in the qalb (innermost heart)”

Maka sebenarnya adalah suatu keniscayaan bila kita jatuh bangun dan kerap tergelincir dalam menghadapi sekian banyak tantangan dalam diri kita yang berupa amarah, takut, malas, prasangka buruk, cemburu, sombong, pamrih, minder, gelisah, syahwat seksual, boros, kikir dsb. Karena manusia adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya.

“…dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)

Menghadapi hal itu semua, Syaikh Ibn ‘Atha’illah berpesan agar dalam situasi apapun, jangan sampai pengharapan kita pada Allah Ta’ala (roja’) menjadi lemah. Salah satu penyebabnya adalah karena kita terlampau cenderung mengandalkan amal-amal dan daya upaya kita dibandingkan dengan kuasa dan karunia-Nya. Atau secara tidak sadar menjadikan segala sesuatu selain Dia menjadi sasaran harapan kita.

Manakala sedang terlilit kesulitan ekonomi umumnya respon manusia akan langsung berpikir mencari solusi dari teman, saudara dan pinjaman bank dibanding dengan melaporkan dulu kesulitan kita kepada Allah Ta’ala. Saat sedang dirundung duka dalam hubungan pribadi atau keluarga, maka kebanyakan akan cenderung mencurahkan perasaan hatinya pada teman dekat sepuas-puasnya dibanding dengan curhat dulu kepada Allah Yang Maha Mendengar. Ketika bala bencana kehidupan datang menerjang maka sasaran keluh kesah dan harapan kita seringkali pada orang-orang yang kita anggap akan membantu melapangkan urusan kita dibandingkan dengan terlebih dahulu memasrahkan urusan itu kepada Dia Yang Maha Kuasa.

Tentu saja bukan berarti kita tidak boleh melakukan semua ikhtiar itu. Tapi hendaknya jadikan Allah Ta’ala sebagai ‘sahabat terdekat’, tempat kita pertama kali melaporkan masalah kita, mencurahkan kepedihan dan kegelisahan hati kita serta memasrahkan apapun kesulitan yang kita hadapi. Sungguh, ini adalah permasalahan tauhid yang mendasar! Suatu etika bagi mereka yang ingin mengesakan Dia.

Sehingga dengan menapaki setiap permasalahan hidup, hati kita menjadi senantiasa menghadap kepada-Nya, intim dengan-Nya dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Adapun setelah itu, maka kita berikhtiar dengan menghubungi teman, meminta tolong handai taulan, mencari jawaban pada ulama dsb. Semata-mata sebagai upaya dalam mencari solusi dan pertolongan yang Allah turunkan melalui segenap ciptaan-Nya. Dengan cara ini, hati kita akan senantiasa memandang ‘wajah’-Nya.

Inilah ciri manusia yang kuat tauhidnya, yaitu mereka sebelum melakukan ikhtiar maka ia terlebih dahulu kontak kepada Tuhan-nya Yang Maha Kuasa membukakan setiap jalan untuknya. Karena memang pada hakikatnya hanya Dia yang mampu melapangkan jalan di setiap kesempitan hidup.

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia…” (QS Al An’aam [6]: 17)

Rasulullah saw pun menyampaikan pesan yang sama dalam menghadapi ujian kehidupan:

“Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”

Kita semua tengah menghadapi masalah dan ujian dalam hidup yang seringkali membuat kita sakit kepala dan kadang putus asa. Padahal sesungguhnya ini semua adalah karunia dari Allah Ta’ala, karena sifat manusia akan cenderung lari dari Allah Ta’ala jika hidupnya sepi dari ujian. Padahal kunci untuk menghadapinya terletak di dalam diri kita sendiri, yaitu dengan menggantungkan hati dan berpengharapan penuh hanya kepada-Nya.

“Tak seorang hamba pun yang turun padanya cobaan, lalu bergantung pada makhluk bukan padaKu, melainkan Aku memutuskan anugerah-anugerah langit dari tangannya dan Aku bebankan masalahnya pada dirinya.” (Hadits Qudsi)

Yahya bin Mu’adz ra ditanya, “Kapankah seseorang itu disebut bergantung kepada Allah Swt?”

“Ketika seseorang itu putus hatinya dari ketergantungan dengan segalanya, apakah ia punya maupun tidak, serta ia pun ridlo kepada Allah Ta’ala sebagai wakil (tempat berserahnya),” jawabnya.

Mari kita serahkan sekecil apapun urusan dalam hati kita kepada-Nya…

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan pertolongan dan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.

tessa sitorini

Kaidah-Kaidah Musibah

December 21, 2011

editor : yoedha pamungkas @ 12:52 am | Kembali Ke Allah | -

Kaidah Pertama, adanya perubahan, perpindahan, dan pergantian keadaan.

Allah menakdirkan dua hal berlawanan. Apabila sesuatu telah sampai pada batasnya, ia akan berubah menjadi kebalikannya. Apabila malam sudah mengambil bagiannya dan telah menghabiskan perjalanannya, ia akan disusul sang fajar. Ini aturan baku dan tidak bisa diubah sampai kapan pun. Apabila siang sudah menghabiskan waktunya yang telah ditentukan, ia akan digantikan malam. Siang dan malam mempunyai waktu dan batasan masing-masing.

Aturan ini berlaku pula pada hitungan jam, hari, bulan, tahun, musim-musim dalam setahun, waktu berbuah, wakt panen, beban yang harus ditanggung, kesehatan, sakit, kepemilikan, kekayaan, kemiskinan, kesempitan, kelapangan, kesenangan, kesedihan, perjumpaan, perpisahan, kecintaan, kebencian, kemuliaan, kehinaan, kekayaan, kekurangan, kemenangan, kekalahan, keberhasilan, kegagalan dan sifat-sifat serta keadaan-keadaan lainnya. Itulah yang dikehendaki Allah bagi kehidupan dunia ini. Itulah ketetapan-Nya bagi semua makhluk-Nya. Pergantian dan perputaran keadaan akan senantiasa ada selama roda dunia masih berputar.

Dari realitas tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa kesempitan di dunia tidak ada yang abadi. Cepat atau lambat ia pasti berlalu dan digantikan kelapangan. Kesulitan pasti digantikan kemudahan. Sebab jika tidak, hal itu akan mengurangi nilai kekuasaan Yang Mahakuasa, bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Yang Mahakuasa, dan berlawanan dengan kehendak Yang Maha Mengetahui. Tidak mungkin ada sesuatu yang bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan-Nya atau berlawanan dengan kehendak-Nya. Tidak akan ada perubahan dan penyimpangan pada ketetapan Allah.

Kaidah Kedua, semua kesulitan pada mulanya besar, kemudian akan mengecil. Kepanikan yang ditimbulkan tidak akan berlangsung lama, benturan dan tekanan yang dimunculkan terjadi pada awalnya saja. Lalu mengerut, mengecil dan akhirnya menghilang. Seperti luka yang menganga dan menebarkan rasa nyeri pada awalnya, secara pelan tapi pasti rasa nyeri itu berkurang, kemudian hilang sama sekali dan akhirnya sembuh.

Kita harus sabar pada benturan pertama supaya kita beroleh pahala. Kesenangan membuat kita bersukacita dan datangnya musibah secara mendadak membuat kita terkejut. Sabar pada benturan pertama merupakan ciri khas orang mulia.

Ketika kita ditimpa musibah, jangan mengira bahwa kita akan menderita seterusnya. Tertimpa musibah memang menyakitkan, tetapi tidak akan selamanya demikian. Musibah itu seperti tamu. Ia pasti akan meninggalkan kita. Sedikit demi sedikit menjauh lalu menghilang sampai akhirnya benar-benar tidak kelihatan.

Salah satu kasih sayang dan kebaikan Allah adalah Dia memberi kita kekuatan jiwa agar siap menghadapi walaupun dengan susah payah, dan kesiapan untuk beradaptasi dengan berbagai kesulitan walaupun banyak mengeluh. Musibah tidak akan menghabisi kita seperti maut. Musibah diturunkan dengan tujuan menyucikan, menguji, memberi pelajaran, dan menghapuskan dosa.

Kaidah Ketiga, tanpa ada musibah kita tidak akan mengetahui nilai sebuah nikmat, ketenangan, dan kesehatan. Ketika tertimpa musibah akan merasakan betapa bernilainya dan betapa indahnya sebuah nikmat. Seandainya kita tidak pernah tertimpa musibah, kita tidak akan merasakan lezatnya nikmat. Kita akan merasa bosan. Semua nikmat yang kita dapatkan terasa hambar. Namun, begitu kita dibenturkan dengan sebuah musibah, kita akan menyadari dan mengingat hari-hari yang menyenangkan dan saat-saat yang menggembirakan. Dan pada saat benturan musibah itu berlalu, kita akan menghargai sebuah nikmat dengan mensyukurinya dan mengikatnya dengan ketaatan. Itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang mengenal sunnah Allah dalam musibah.

Jika seseorang tidak pernah merasakan pahitnya sebuah penderitaan, engkau akan melihat hidupnya gelisah dan bingung, lantaran ia hanya menjalani satu kondisi yang statis dan membosankan. Berlama-lama dalam satu keadaan pasti akan memberatkan. Pergantian dari satu keadaan ke keadaan lainnya melahirkan satu kenikmatan, kegembiraan dan kesenangan tersendiri. Itu hanya bisa dirasakan orang-orang yang tertimpa musibah.

Abu Tamam bersyair:
Berbagai kesulitan yang membuat kamu sengsara,
Sejatinya menyadarkan kamu tentang arti kenikmatan.

Orang sehat tidak akan mengetahui arti kesehatan sebelum merasakan sakit. Orang bebas tidak akan menghargai nilai kebebasan sebelum dipenjara. Orang kenyang tidak akan merasakan lezatnya makanan sebelum merasa lapar. Dan orang yang tidak haus tidak akan mengetahui betapa berharganya air sebelum merasa dahaga. Kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Kaidah Keempat, salah satu yang dapat meringankan musibah adalah menyadari bahwa beban musibah akan terus berkurang sedikit demi sedikit dan lama-lama akan menghilang lalu kembali ke kondisi normal. Setiap musibah ada batasnya. Jika orang yang tertimpa musibah mampu melewatinya satu hari saja, itu artinya beban di pundaknya berkurang. Sebuah musibah tidak akan berlangsung selamanya. Sebab waktu terus berjalan dan musibah ada batasnya.

Yahya ibn Khalid al-Barmaki menulis surat kepada Harun al-Rasyid dari penjara, “Ketahuilah, setiap jam yang berlalu meringankan penderitaanku dan mengurangi kenikmatanmu, hingga Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia mempertemukanku denganmu.” Itulah ucapan orang yang pintar dan bijaksana.

Orang yang ditimpa musibah hendaknya bergembira setiap kali melihat matahari terbenam, sebab satu dari penderitaan hilang. ‘Ammarah ibn Uqail mengatakan dalam syairnya,

Setiap hari berlalu sambil mengurangi penderitaanku.
Sebagaimana ia berlalu merenggut kenikmatanmu.

Kaidah Kelima, semua peristiwa terjadi atas pilihan Allah. Dia memilihnya berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Setiap kebaikan atau keburukan yang ditetapkan oleh Allah bagi seorang muslim adalah pilihan terbaik baginya. Sampai-sampai Syekh al-Islam Ibn Taimiyah berpendapat bahwa kemaksiatan yang telah ditetapkan Allah kepada seorang hamba sejatinya merupakan nikmat, asalkan segera ditaubati, disesali dan dimintakan ampunan. Jika musibah yang menimpa hamba merupakan kebaikan baginya, lalu mengapa ia mesti menghadapinya dengan perasaan tidak suka?

ketahuilah di balik setiap ujian yang menimpamu pasti ada hikmah dan rahasia kebaikan yang hanya diketahui oleh Allah. Engkau tidak diperintahkan mencari tahu rahasia tersebut. Itu urusan Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. Kewajibanmu adalah menerima dan menyerahkan segalanya kepada Allah, itu saja. Apa yang dianggap baik oleh hamba belum tentu baik baginya, dan apa yang dianggap buruk olehnya juga belum tentu buruk baginya. Jika semua kebaikan dan keburukan dapat diketahui oleh seorang hamba, itu artinya ia mengetahui alam gaib, sanggup menyingkap rahasia takdir, mengetahui seluk beluk ketentuan Tuhan. Padahal semua itu hanya milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal.

Allah SWT berfirman, Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai (al Anbiya [21]:23)

Kaidah Keenam, apabila musibah telah mencapai puncaknya, giliran kemudhaan dan kelapangan datang. Itulah aturan yang telah Allah tetapkan untuk alam dan tidak akan pernah berubah. Pepatah mengatakan, “Jika kesulitan telah mencapai puncaknya, jalan keluar pasti datang.” Orang-orang Arab mengatakan, “Apabila kapasitasnya sudah penuh, maka keadaannya akan berbalik.”

Ketika seorang yang tertimpa musibah merasa penderitaannya sudah memuncak, ia pasti akan tersentak oleh kenyataan bahwa penderitaannya hilang dengan tiba-tiba. Sebab, Allah sama sekali tidak menurunkan ujian untuk selamanya. Segala sesuatu pasti mengalami perubahan dan kemusnahan, kecuali Zat Yang Maha Esa lagi Mahasuci.

Orang yang membaca sejarah akan tahu bahwa sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan akan kembali menjadi kekurangan dan akan berakhir dengan kesudahan. Kesenangan ataupun kesengsaraan sama saja.

Sunatullah telah menggariskan bahwa segala sesuatu yang telah mencapai puncaknya akan berubah kepada kebalikannya. Yang tidak akan pernah berubah dan berganti adalah sunatullah itu sendiri. Apabila kegelapan malam telah mencapai puncaknya, fajar akan datang menggantikannya. Apabila cahaya dan bentuk bulan telah mencapai kesempurnaannya, cahaya dan bentuknya akan kembali berkurang. Dem halnya dengan musibah. Apabila pahit getir dan rasa sakit yang ditimbulkan telah mencapai puncaknya, bergembiralah karena ia akan segera menghilang.

Kaidah Ketujuh, jika seorang hamba merasa segala upayanya telah menemui jalan buntu dan tidak punya harapan lagi, tibalah kelapangan dan kegembiraan.

Allah SWT berfirman, Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami (QS Yusuf [12]: 110)

Sebab, jika seorang hamba sudah tidak punya harapan lagi terhadap sesama manusia hingga timbul rasa putus asa dalam hatinya, sesuai dengan fitrah Allah di hatinya akan timbul harapan terhadap-Nya, itu pasti. Keinginan timbul dalam hatinya untuk kembali kepada-Nya dan bersujud dengan sepenuh hati, seraya mengakui segala kekurangan dan ketidakmampuannya, serta mengajukan segala harapan, permohonan dan asanya.

Allah SWT berfirman, “Atau siapakah yang memperkenalkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS An Naml [27]: 62)

Itulah rahasia tauhid, Allah akan menolongnya dengan kelapangan dan jalan keluar.

Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hamba yang berharap kepada-Nya dan tidak akan menolak doanya. Itulah sunnah yang telah ditetapkan-Nya dan tidak akan berubah sampai kapan pun. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi orang yang menyekutukan-Nya.

Apabila seorang hamba gagal mendapatkan bantuan dari sesama manusia dan sudah putus asa terhadap mereka, niscaya dalam hatinya timbul harapan kepada Tuhannya dan mengajukan permohonan kepada-Nya. Allah Yang Maha Esa pasti mengabulkan permohonannya, menghilangkan keburukan yang menimpanya, menyingkirkan kesedihan yang menyelimutinya, menggantikan kesempitannya dengan kelapangan, kedukaannya dengan kegembiraan, dan kesusahannya dengan kebahagiaan.

Jika engkau sudah merasa tidak punya harapan, ketahuilah bahwa kelapangan sudah ada di depan matamu, keberhasilan dan pertolongan segera tiba…[]

(Ibnu Qayyim al Jauziyyah. Hikmah al-Ibtila’)

Tessa Sitorini.

Pintu Yang Tak Ingin di Masuki

editor : yoedha pamungkas @ 12:30 am | Dzikrull Maut | -

PINTU NERAKA

Yazid Ar raqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada rosulullah pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Rosululah saw: “Mengapa aku melihat kau berubah muka?” Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan a…pi neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka- suka sebelum ia merasa aman daripadanya”.

Lalu Rosullulah saw bersabda:
“Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam”. Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan basinya.

Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke 7. Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan- potongan api. Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yg lain”. MasyaAllah…

Dikatakan dalam Hadith Qudsi: ‘Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahariKu. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu: mempunyai 7 tingkat.
Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah.
Setiap daerah mempunyai 70.000 kampung.
Setiap kampung mempunyai 70.000 rumah.
Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik.
Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak.
Setiap kotak mempunyai 70.000 batang pokok zaqqum.
Di bawah setiap pokok zaqqum mempunyai 70.000 ekor ular.
Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Dan di bawah setiap pokok zaqqum terdapat 70.000 rantai. Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat’.

‘Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api neraka jahannam’ (HR. Bukhari-Muslim). “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya”. (QS. Al-Furqan: 11).

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah lantaran marah”. (QS. Al-Mulk: 7). Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas). (Lihat QS. Al-Waqi’ah: 41-44).

Rasulullah SAW meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut.

“Pintu pertama dinamakan Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir.
Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin.
Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api.
Pintu ke 4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya.
Pintu ke 5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi.
Pintu ke 6 dinamakan Sa’ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir.

Rasulullah bertanya: “Bagaimana dengan pintu ke 7.?” Sejenak Malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah SAW mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril mengatakan, “Pintu ke 7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat”.

Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah SAW pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rosulullah saw di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umat ku yang akan masuk ke dalam neraka?” Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu.”

Nabi Muhammad lalu menangis, Jibrail pun ikut menangis. Kemudian nabi saw langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab.

Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat beliau karena tangisan yang tiada henti. Wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang diceritakan oleh Kasyfi, bahwa Bumi tempat beliau duduk telah basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?”

Nabi saw menjawab: “Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis.? Karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka itu mempunyai 7 pintu, dan pintu- pintunya mempunyai 70.000 celah api. Pada setiap celah ada 70.000 peti mati dari api, dan setiap peti berisi 70.000 jenis azab”.

Setelah mendengar ucapan tsb, para sahabat Nabi menangis dan meratap, “Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit”. Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, “Seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini”. Ammar bin Yasir berkata, “Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab- sebab duka cita itu. Salman menjawab: “Celakalah engkau dan aku, Sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka).

MasyaAllah.. Sungguh dialog yang sangat mengerikan. Para sahabat meratap dan menangis, bahkan Nabi dan malaikat Jibril pun menangis saat mengetahui tentang dasyatnya siksa di neraka.

Bagaimana dengan kita..?

Doa Asyura

December 5, 2011

editor : yoedha pamungkas @ 3:06 am | Shalat dan Doa | -

Sahabat-sahabat, mari kita amiiin kan doa berikut:

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Ya Allah, wahai Yang memberikan jalan keluar dari segala kesusahan,
wahai Yang mengeluarkan Dzun Nuun pada hari Asyura,
wahai Yang menghimpun semua keturunan Ya’qub pada hari Asyura,
wahai Yang mengampuni dosa Daud pada hari Asyura,
wahai Yang melenyapkan penyakit Ayyub pada hari Asyura,
wahai Yang mendengar seruan Musa dan Harun pada hari Asyura,
wahai Yang menciptakan ruh Muhammad saw. pada hari Asyura.

Wahai Yang Maha pemurah di dunia dan di akhirat, panjangkanlah usiaku dalam taat kepada-Mu, mencintai-Mu dan mendapat ridha-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Hidupkan pula aku dalam kehidupan yang baik dan wafatkanlah aku dalam keadaan islam dan iman, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Allohumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad.
walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

(Doa Asyura dari Terjemah Majmu’ Syarief)

Pengharapan di Muharram

November 24, 2011

editor : yoedha pamungkas @ 9:01 pm | Renungkanlah | -

Muharram adalah salah satu bulan suci, dan malam ini–10 Muharram–merupakan salah satu malam paling suci dalam Islam. Besok, tanggal 10 Muharram adalah Hari ‘Asyura. Dia memiliki kedudukan yang istimewa dalam kalender Islam, begitu pula dalam lintasan sejarah dunia, karena pada hari ini Allah swt mengaruniakan hamba-hamba- Nya yang tercinta dengan karunia dari Samudra Rahmat-Nya yang tak bertepi dan Samudra Kekuatan-Nya yang tak terhingga, untuk menjadikan mereka sebagai orang-orang yang memperoleh kemenangan…

Pada hari ini, Perahu Nabi Nuh as mendarat di puncak gunung dan banjir yang melanda telah berakhir. Nabi Ibrahim as diselamatkan dari api Namrud, Nabi Musa as melewati Laut Merah dan diselamatkan dari Fir’aun. Nabi Yunus bin Ilyasa’ as diselamatkan dari perut ikan. Nabi Sulaiman as, Raja Sulaiman as dianugerahi kerajaan jinn dan manusia. Nabi Ayyub as disembuhkan dari penyakitnya dan diberikan kesejahteraan lebih dari sebelumnya. Nabi ‘Isa as diangkat ke Surga.

Dan Sayyidina Muhammad saw dianugerahi lebih banyak kemuliaan, tujuh Pintu Surga dibukakan baginya dan bagi seluruh umatnya, dan beliau diselamatkan dari sukunya, suku Quraisy.

Dan setiap kali Muslim jatuh dalam kesulitan, Pertolongan dan Dukungan Ilahi langsung menyertai mereka di bulan ini, dan khususnya pada hari seperti besok–10 Muharram–… sangat penting.

Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, sebulan yang lalu, di bulan Dzul Hijjah, di malam Arafat, bahwa suatu perubahan mulai terjadi. Ada suatu Tajjali (Manifestasi Ilahi) yang baru, kekuatan baru yang akan terus berlanjut tanpa henti.

Berusahalah untuk bersama dengan Allah swt sehingga kita akan menjadi orang-orang yang menang. Berusahalah setahap demi setahap untuk menarik dirimu dari tangan Setan dan sifat-sifat buruknya.

Kita bergembira dan cukup bangga bahwa Allah swt membuat kita senang bersama-Nya, bersama para Awliya-Nya, , dan tidak mengejar kehidupan setani yang kotor… Kehidupan setani adalah yang paling kotor. Menyingkirlah dari situ. Jika tidak, kita akan tenggelam dalam air yang kotor, kita akan tenggelam dalam situasi yang buruk, dan kalian tidak dapat menyelamatkan diri. Mintalah kepada-Nya agar dibersihkan dan berusahalah untuk tampil bersih, sehingga kita akan menjadi bersih.

blog counter
blog counter