“INDIKASI KEGAGALAN DAN KESUKSESAN DALAM SULUK”

February 6, 2010

editor : yoedha pamungkas @ 2:34 pm | Kembali Ke Allah | -

“Tanda-tanda Kegagalan dan keberhasilan Perjalanan Menuju Allah”
menurut Ibnu Atha’illah Al-Iskandari

Terdapat 10 penyakit yang bisa menggagalkan perjalanan
seseorang menuju Allah, yakni;.. melihat amal, panjang
angan-angan, merasa telah sampai ke tingkat wali,
menunduk kepada makhluk, merasa puas dengan
penglihatan mimpi, bersuka cita dengan wirid,
bersenang-senang dengan karunia yang diterima, berdiam
terhadap janji, merasa cukup dengan pengakuan dan
lalai terhadap Allah,

Sedangkan tanda bahwa seseorang jatuh nilainya dalam
pandangan Allah ada 3,..
Ridha terhadap diri sendiri, tidak ridha terhadap
Allah serta melawan qada dan qadar Allah.

Tanda dekatnya seseorang dari Allah juga ada 3,…
Tidak mementingkan dirinya, menegakkan kebenaran dan
tawadhu terhadap makhluk.

Sementara tanda bahwa seseorang telah sampai kepada
Allah jug
a ada 3,…
Memahami Allah, mendengarkan Allah dan mengambil semua
yang berasal dari Allah.

Tanda orang yang menggantungkan diri kepada Allah pun
ada 3,…
Tidak ikut memilih, tidak ikut mengurus dan tidak ikut
mengatur

Tanda bahwa seseorang mewakili Allah adalah ketika ia
mengganti sifat-sifat fananya dengan sifat-sifat yang
abadi dan melenyapkan zatnya yang fana dalam Zat yang
Abadi.
Allah senantiasa memberi kekuasaan-Nya kepada siapa
yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha
Mengetahui.

Tanda bahwa seseorang hamba benar-benar mencintai
Allah ada 3,…
Tidak ikut memilih, menganggap baik semua realitas
takdir, serta menyaksikan kesempurnaan sang Kekasih
dalam segala sesuatu disertai kepasrahan total
kepadaNya.

Sebaliknya, tanda bahwa seseorang dicintai Allah juga
ada 3,…
Ridha kepadanya atas apa yang dilakukannya,
membicarakannya dan memberikan rahasia kepadanya lewat
hikmah-Nya yang mendalam sebagai dalil atas-Nya.

Akhlak seorang Salik

Ketahulilah, bahwa jalan menuju Allah haruslah
senantiasa bersih dari sikap menentang dan nafsu yang
menyimpang. Pemberian alasan, sikap toleran dan
kelembutan pada sesuatu yang mengarah pada
penyimpangan dari jalan Allah adalah tidak boleh ada
di dalamnya. Karena itu, perbuatan yang jelas-jelas
melanggar syariat adalah layak dikecam dan tidak boleh
diberi maaf. Sikap toleran hanya berlaku dalam sesuatu
yang terkait dengan hak-hak pribadi.
Seorang salik yang hendak menapak jalan menuju Allah,
haruslah berusaha memberi-kan apa yang menjadi hak
orang tanpa menuntut balas dari mereka.
Ia juga harus menerima alasan orang tanpa berusaha
mencari alasan untuk diri sendiri.
Selain itu, ia harus menolong tanpa berusaha untuk
ditolong, harus memperlakukan manusia dengan sikap
kasih dan sayang, serta berinteraksi bersama mereka
dengan mengembangkan sikap saling menasehati.
Ia tidak boleh dengki dan iri dalam apa yang Allah
berikan pada orang.
Tidak berteman dan duduk bersama wanita. Serta tidak
bersahabat dan bercengkrama dengan anak-anak muda.

Seorang salik juga harus berusaha menepati janji,
berkata benar dan bersikap wara’ entah itu terkait
dengan ucapan, makanan, pandangan dan seterusnya.
Ia tidak boleh bersikap riya, harus menjaga adab-adab
syariat –baik yang kecil maupun yang besar- kalau
sudah mengetahui. Kalau belum mengetahui, ia harus
bertanya. Orang yang berani mengkhianati adab-adab
syariat akan lebih berani lagi mengkhianati
rahasia-rahasia ilahi. Karena itu, Allah hanya akan
memberikan rahasiaNya kepada mereka yang bisa
dipercaya.

Seorang salik tidak boleh memilih, sebab ia bersama
pilihan Allah.
Ia juga harus meninggalkan hal-hal yang mubah, sebab
memperhatikan hal yang mubah itu hanya akan
membuang-buang waktu. Salik yang masuk ke dalam jalan
ini, kalau sudah menjadi suami, hendaknya tidak
menceraikan isterinya. Atau kalau masih bujang
hendaknya tidak menikah dulu sampai sempurna. Dan jika
sudah sempurna ia akan mendapat pemberian Allah.

Seorang salik harus jujur. Ia hanya berbicara dengan
apa yang ia saksikan.
Ketika salik atau murid mengunjungi seorang syekh,
qalb-nya harus kosong agar ia bisa menerima apa yang
diberikan oleh syekhnya itu. Ia tidak boleh
mengingkarinya. Jika sulit diterima, ia harus
mengevaluasi diri dengan berkata,… “Saya belum sampai
pada kedudukan ini.” Ia tidak boleh menganggap
syekhnya yang salah. Siapa yang menemui syekh untuk
mengujinya, berarti ia adalah seorang yang bodoh.
Hendaknya ia meminta sang syekh untuk berbicara
tentang persoalan khatir. Tetapi, yang mestinya ia
minta adalah agar sang syekh tersebut mengajarkan
kotoran-kotoran jiwa beserta obatnya, juga agar ia
menerangkan hal-ihwal seorang murid, bukan hal-ihwal
kaum arif.

Apabila seorang salik menyaksikan ada orang yang
sedang berbuat maksiat, janganlah ia mempunyai
keyakinan bahwa maksiat tersebut dilakukan seterusnya.
Namun, hendaknya ia berkata,… “Barangkali ia bertaubat
pada saat tak dilihat orang…” atau “Barangkali maksiat
tersebut tidak mengkhawatirkan karena mungkin Allah
menolong ia di akhir hidupnya.” Seorang salik tidak
boleh mempunyai prasangka buruk terhadap seseorang
kecuali yang memang telah Allah tampakkan akhir
kehidupannya. Para salik juga tak boleh berprasangka
baik terhadap dirinya. Siapa yang memandang dirinya
lebih baik dari orang lain, padahal ia belum
mengetahui keadaannya dan keadaan orang tersebut di
akhir hidupnya, berarti ia bodoh terhadap Allah,
tertipu dan tidak memiliki kebaikan. Meskipun ia
diberi pengetahuan, tetapi sebetulnya ia tidak diberi.
Meremehkan ilmu yang hakiki berarti meremehkan Allah.
Dan tentu saja hal tersebut bertentangan dengan sifat
kewalian.
Ciri-ciri seorang salik adalah ia selalu membersihkan
diri dari berbagai perangai buruk dan mengisinya
dengan berbagai akhlak yang terpuji.
Ia senantiasa sabar menghadapi gangguan orang dan
tidak menyakiti.
Hendaknya ia senang membantu orang dalam hal
kebajikan, mengasihi orang yang lemah, menunjuki orang
yang sesat dan bodoh, menyadarkan orang yang lalai dan
tidak membuat hijab.
Setiap orang yang meminta pertolongannya, selalu
dibantu.
Setiap orang yang ingin menemuinya, selalu bisa
bertemu.
Ia tidak menutup diri dari orang, selalu memberi
kepada yang meminta, menghormati tamu, menghibur orang
yang sedang merana, menenangkan orang yang sedang
cemas, memberi makan orang yang lapar, memberi minum
orang yang haus, memberi baju kepada orang yang
telanjang, membantu pelayan, selalu melakukan
perbuatan mulia dan tidak melakukan perbuatan tercela.

Diantara ciri salik lainnya adalah selalu melakukan
mujahadah jasmani seperti menahan rasa lapar dan haus,
serta berujung dalam empat hal,…
 Kematian putih, yaitu menahan lapar,
 Kematian merah, yaitu menentang hawa nafsu,
 Kematian hitam yaitu bersabar dalam memikul
beban, serta
 Kematian hijau yaitu memakai tembelan
berlapis.

Seorang salik juga lebih mengutamakan orang lain,
selalu bersandar kepada Allah dalam semua hal, ridha
dengan semua ujian dariNya, bersabar dalam menghadapi
berbagai macam penderitaan, meninggalkan tanah air,
menjauh dari makhluk tanpa memandang mereka sebagai
orang yang buruk, namun semata-mata karena lebih
mengutamakan Allah ketimbang makhluk. Ia memutuskan
segala hubungan yang bisa menjadi penghalang, selalu
berusaha untuk memenuhi hajat kebutuhan manusia
setelah selesai membenahi dirinya sendiri. Siapa yang
berusaha memenuhi hajat mansuia sebelum ia memperbaiki
diri sendiri, berarti orang tersebut sebenarnya
menginginkan kedudukan dan pujian.

Diantara akhlak salik adalah bersikap Qana’ah, yaitu
merasa cukup dengan pemberian yang ada tanpa mengharap
tambahan karunia. Lalu ia juga selalu berusaha agar
dirinya senantiasa berada dalam keadaan suci. Malaikat
berkata kepada Allah, “Kami tinggalkan mereka dalam
keadaan shalat….”
Akhlak lainnya adalah berdo’a kepada Allah untuk
menunjukkan keberadaan dirinya sebagai hamba,…
sekaligus menunjukan kefakiran, kehinaan, kekhusyukan,
ketundukan dan sikap tawadhu kepadaNya. Hal itu
dilakukan karena keberadaan asma-asma Allah yang
selaras dengan sifat tersebut. Tidak ada yang
mengetahui rahasia dari asma-asma Tuhan tersebut
kecuali orang yang bertingkah laku dengan sifat-sifat
yang mencermin-kan asma itu.
Seorang salik juga melihat pada aibnya, sibuk dengan
dirinya, dan berusaha untuk tidak melihat aib orang.
Ia selalu mempunyai prasangka yang baik kepada mereka.
Ia membiasakan lisannya mengucapkan yang baik-baik,
menjaga pandangan matanya agar tidak melihat kepada
sesuatu yang tidak selayaknya, mempercepat langkah
ketika berjalan, berusaha diam kecuali dalam kebaikan,
melakukan amar maruf nahyi munkar kepada para penguasa
yang mempunyai perasaan takut dan diharapkan bisa
berubah, …

Senantiasa berlapang dada kepada semua makhluk,
mendo’akan kaum muslimin, melayani orang-orang fakir,
serta mengasihi dan menyayangi semua hamba Allah, baik
manusia maupun yang lainnya.

Dikisahkan bahwa ada seorang penguasa yang sangat
lalim,…. suatu hari ia menaiki tunggangannya dan
kemudian melihat seekor anjing yang kepayahan. Udara
pada hari tersebut sangat dingin. Ia pun segera
memerintahkan para pembantunya agar anjing itu dibawa
ke rumah. Ia sangat mengasihi anjing tersebut dan
berbuat baik kepadanya. Ketika malam tiba, ia bermimpi
ada suara yang berkata padanya,…“Engkau tadinya
seperti anjing,.. maka kami berikan engkau pada seekor
anjing.”

Sifat salik lainnya adalah senantiasa menyebarkan
kebaikan manusia. Ia tutupi aib mereka, kecuali ahli
bid’ah agar orang-orang mengetahui dan berhati-hati
kepadanya.
Seorang salik juga selalu memandang dengan wajah yang
menyiratkan penghormatan. Ia tidak pernah menganggap
dirinya lebih baik dari orang lain, tidak merasa
berjasa dan tidak meminjamkan –tapi memberi.
Kalaupun orang yang membutuhkan kemudian meminta
sesuatu kepadanya, ia segera memberi-nya tanpa rasa
pamrih. Namun, jika orang tadi mengembalikannya, ia
meminta secara halus kepadanya agar tak usah
dikembalikan. Kalau toh orang tadi menolak dan
memak-sa untuk mengembalikannya, maka ia mengambilnya,
tapi untuk diserahkan kepada orang lain yang juga
membutuhkannya. Seorang salik takkan mengambil kembali
apa yang sudah keluar darinya. Jika suatu ketika
barangnya terjatuh dijalan, entah itu berupa pakaian
atau uang, meskipun jumlahnya sekitar seribu dinar,
sementara ia sudah berjalan jauh, ia takkan kembali
untuk mencarinya dan tidak pula mengumumkannya. Jika
ternyata pada kondisi tersebut jiwanya goncang,
berarti padanya terdapat penyakit yang tersisa dan
dunia masih mendekam dalam qalb-nya. Hendaknya ia
lekas mengobati penyakitnya itu. Hanya saja, kalau
barang yang hilang tadi kembali tanpa di cari, maka
terserah ia. Ia bisa menyimpannya atau
mengeluarkannya.
Selanjutnya, sifat seorang salik yang lain adalah
mendahulukan kaum fakir daripada orang kaya serta
mengutamakan mereka yang cenderung pada akhirat
ketimbang hamba dunia. Seorang salik tidaklah harus
menjadi miskin. Tetapi, ada yang miskin dan ada pula
yang kaya. Seorang salik juga senang melakukan amal
ketaatan, baik dalam kesendirian maupun dalam
keramaian. Ia selalu berusaha agar jiwanya dan
lintasan pikirannya bersama Allah dalam menerima
limpahan karunia. Ia senantiasa ridha kepada Allah
dalam semua kondisi. Segala puji bagiNya dalam setiap
keadaan.
Kalau ia bisa mengubah kebiasaan yang lazim dilakukan
oleh manusia dan dirinya, maka akan Allah berikan
untuknya sesuatu yang luar biasa sebagai imbalan yang
setimpal. Itulah yang oleh masyarakat awam disebut
dengan karamah. Adapun bagi kalangan khusus, karamah
adalah pertolongan Tuhan berupa taufiq dan kekuatan
hingga ia bisa mengubah kebiasaan mereka.

“Kesibukanku pada dunia membuatku jauh dari-Mu,…
karena itu, kumpulkan aku dengan-Mu lewat pengabdian
yang bisa mengantarku sampai padaMu. Bagaimana akan
dijadikan petunjuk atas-Mu sesuatu yang keberadaannya
sendiri membutuhkanMu?..
Adakah selainMu yang tampak sehingga ia bisa menjadi
petunjuk atas-Mu?… Kapankah kiranya Engkau
tersembunyi sehingga dibutuhkan petunjuk yang
menerangkan keberadaanMu?…
Kapankah kiranya Engkau jauh sehingga diperlukan
sesuatu yang bisa mengantarkan padaMu?…

Dikutip dari buku: Miftah al-Falah wa Mishbah
al-Arwah, Ibn’ Atha’illah al-Iskandari

Dosa-Dosa

January 19, 2010

editor : yoedha pamungkas @ 1:52 pm | Kembali Ke Allah | -

Sahabat-sahabat…

Banyak orang menyangka bahwa dosa-dosa yang harus ditaubati hanyalah
dosa-dosa yang dzahiriyah, seperti meninggalkan shalat, meninggalkan puasa,
membunuh, berzina, dsb.

Sedikit yang menyadari bahwa segala niat yang jelek-pun telah diperhitungkan
oleh Allah Swt.

Allah Swt berkata:
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu
melahirkan apa yang ada di dalam hatimu (anfusikum) atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu
tentang itu. (QS. 2:284)

Nabi Saw pun berkata:
“Apabila bertemu dua orang Islam dengan pedang keduanya, maka yang membunuh
dan terbunuh itu dalam neraka”. Lalu ditanyakan: “Wahai Rasulullah, ini yang
membunuh. Maka bagaimana dengan yang dibunuh?” Beliau menjawab: “Karena ia
bermaksud membunuh kawannya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini kita mendapatkan penjelasan bahwa seorang berdosa (masuk
neraka) karena membunuh orang lain. Seseorang pun berdosa pula karena ia
“berniat” (memiliki niat) membunuh, walaupun karena kepiawaian ia yang
terbunuh. Seorang yang memiliki niat membunuh telah diperhitungkan sebagai
membunuh!

Bila kita menyadari hal ini, wah… betapa banyak kesalahan dan dosa yang
kita lakukan.
Mungkin kita tidak pernah membunuh orang, tetapi kita sering memiliki niat
dan berpikir dan berniat membunuh orang.
Mungkin kita tidak pernah mencuri, tetapi kita sering memiliki niat dan
berpikir mencuri harta orang lain.
Mungkin kita tidak pernah berzina, tetapi kita sering berpikir dan memiliki
niat berzinah dengan orang lain.

Sahabat-sahabat.
Yang membuat hati kita tertutup, bukan hanya karena dosa-dosa yang
dzahiriah. Namun juga disebabkan oleh kesalahan-kesalahan dalam tingkat niat
dan pikiran. Yang kita harus taubati bukan hanya dosa-dosa yang dzahiriah,
namun juga segala kesalahan ini.

Dan sekiranya seseorang cerdas, maka ia akan melihat bahwa amal-amal yang
dilakukannya tidak akan pernah melebihi bahkan sekedar menyamai kesalahan
yang dilakukannya. Dalam keadaan seperti ini maka seseorang dapat kembali
suci bersih hanya dengan belas kasih dan pertolongan (rahmat) Allah Swt.

Karenanya Dia berkata:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syaitan.Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka
sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang
mungkar.Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu
sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya… (QS.24:21)

Semoga bermanfaat

Kumpulan doa sehari hari

January 11, 2010

editor : yoedha pamungkas @ 11:52 am | Doa... | -

Doa Ketika Menderita Sakit Berat
Allahumma in kana ajali qad hadara fa arihni wa in kana muta-akhkhiran farfa’ni wa in kana bala-an fasabbairni.
Artinya: “Ya Allah, jika ajalku telah datang dalam sakitku ini, maka senangkanlah aku, jika masih jauh hilangkanlah penyakitku, dan jika sebagai cobaan, maka berikanlah kesabaran padaku.”

Doa Setelah Minum Obat Agar Cepat Sembuh
Bismillahisy syafi, bismillahil kafi, bismillahil mu’afi, bismillahil lazi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardi wa la fis sama’i wa huwas sami’ul ‘alim.
Artinya: “Dengan nama Allah Tuhan yang menyembuhkan. Dengan nama Allah Tuhan yang mencukupkan. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatupun yang berbahaya baik di bumi maupun di langit. Dan Dia adalah Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Doa Perlindungan dari Segala Macam Penyakit
Allahumma inni a’uzubika minal barasi wal jununi wal juzami wa sayyi’il asqami.
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit celup, penyakit gila, penyakit kusta, dan penyakit-penyakit buruk lainnya.”

Doa Kesembuhan:
Inni massaniyad durru wa anta arhamur rahimina.
Artinya: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang.”

Doa Mohon Petunjuk:
Ihdinas siratal mustaqima, siratal lazina an’amta ‘alaihim gairil magdubi ‘alaihim walad dallina.
Artinya: “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka dan bukan jalan mereka yang dimurkai serta yang sesat.”

Doa Kepada Kedua Orang Tua
Rabbirhamhuma kama rabbayani sagiran.
Artinya: “Ya Tuhanku, kasihilah keduanya (ayah dan ibu) sebagaimana kasih mereka mendidikku waktu aku kecil.”

Doa Ketika Melihat Jenazah
Subhanal hayyil lazi la yamutu. Allahummagfir lihazal mayyiti warhamhu wa anis fil qabri wahdatahu wa gurabatahu wa nawwir qabrahu.
Artinya: “Maha suci Zat Yang Hidup yang tidak akan mati. Ya Allah, ampunilah mayit ini dan sayangilah dia, dan temanilah dia di dalam kesendirian dan keasingannya di dalam kubur, dan terangilah kuburannya.”

Doa Ketika Mendengar Kematian Sanak Famili
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’una wa inna ila rabbina lamunqalibuna. Allahummaktubhu ‘indaka fil muhsinina, waj’al katabahu fi ‘illiyyina wakhluf fi ahlihi fil gabirina.
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya dan kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah! Tulislah dia (yang meninggal dunia) termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tungkatan yang tinggi serta gantilah ahlinya dengan golongan orang-orang yang pergi.”

Doa Ziarah Kubur
Assalamu’alaikum ya ahlad diyari minal mu’minina wal muslimina wa inna insya’allahu bikum lahiquna. As’alullaha lana wa lakumul ‘afiyata.
Artinya: “Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung orang-orang mukminin dan muslimin. Kami pun insyaallah akan bertemu dengan anda sekalian. Kumohon pada Allah kesejahteraan bagi kami dan bagi anda sekalian.”

Doa Bila Selesai Berdoa
Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifuna wa salamun ‘alal mursalina wal hamdulillahi rabbil ‘alamina.
Artinya: “Maha suci Tuhan-mu, Tuhan yang Mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan kepada Rasul-rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Doa Melihat Seorang Mendapat Bencana
Alhamdulillahil lazi ‘afani mimmabtalaka bihi, wa faddalani ‘ala kasirin mimman khalaqa tafdila.
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah me’afiatkan (menyehatkan) aku dari penyakit yang menimpamu, dan telah mengutamakan aku atas kebanyakan makhluk-Nya.”

Doa Dikala Sakit Panas
Bismillahil kabiri na’uzu billahil ‘azimi min syarri ‘irqin na’arin wa min syarrin nari.
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Besar, kami berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dari kejahatan peluh yang mendidih dan kejahatan panasnya api.”

Doa Keselamatan dan Keluarga :
Rabbi najjini wa ahli mimma ya’maluna.
Artinya: “Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari perbuatan mereka.”

Doa Terhindar dari Ajakan Orang Berbuat Jahat:
Rabbis sijni ahabbu ilayya mimma yad’unani ilaihi wa illa tasrif ‘anni kaidahunna asabu ilaihinna wa akum minal jahilina.
Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu-daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Doa Naik Kendaraan di Laut :
Bismillahi majraha wa mursaha inna rabbi lagafurur rahima.
Artinya: “Dengan nama Allah, yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku Pemaaf dan Pengasih.”

Doa Mohon Terlindung dari Bahaya Kecelakaan:
Allahumma inni a’uzubika min jahdil bala’i wa darkisy syaqa’i wa su’il qada’i wa syamatatil a’da’i.
Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kengerian bala, menemui kesengsaraan, qada yang buruk, dan merasa senangnya musuh.”

Doa Ketika Ada Angin Kencang :
Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira ma fiha wa khaira ma arsalta bihi wa a’uzubika min syarriha wa syarri ma arsalta bihi.
Artinya: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikannya (angin) dan kebaikan yang dibawanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang dibawanya.”

Doa Ketika Mendengar Petir :
Allahumma la taqtulna bigadabika wa la tuhlikna bi’azabika wa ‘afina qabla zalika.
Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau bunuh kami dengan kemurkaan-Mu dan janganlah Engkau binasakan kami dengan siksaan-Mu dan selamatkanlah kami sebelum kejadian ini.”

Doa Ketika Hujan Turun :
Allahumma sayyiban nafi’an.
Artinya: “Ya Allah, semoga hujan ini membawa kesuburan dan kemakmuran.”

Doa Tiba di Tempat Tujuan :
Alhamdulillahil lazi sallamani wal lazi awani wal lazi jama’asy syamla bi.
Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkan aku dan yang telah melindungiku dan yang mengumpulkanku dengan keluargaku.”

Doa agar Terhindar dari Bahaya:
Bismillahil lazi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardi wa la fis sama’i wa huwas sami’ul ‘alimu.
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya sesuatu itu tidak berbahaya di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Doa Menghadapi Musibah :
Inna lillahi wa inna ilayhi raji’una. Allahumma ajirni fi musibati wakhluf li khayran minha.
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah kami pahala dalam musibahku ini dan berilah pengganti yang lebih baik.”

Berserah Diri (3)

January 9, 2010

editor : yoedha pamungkas @ 5:59 pm | Kembali Ke Allah | -

Banyak sekali atau bahkan hampir semua, amal dan usaha kita sekarang
ini lebih merupakan wujud penolakan kita terhadap karsa Allah.
Lihatlah apa yang mendasari kita bekerja? Apa yang mendasari kita
sekolah atau kuliah? Apa yang mendasari kita mengatasi masalah?

Mungkin apabila kita mau jujur terhadap diri kita, jawabannya adalah karena
ketakutan kita akan kelaparan, kekurangan harta, takut disepelekan orang,
karena tersinggung, karena kebencian dan banyak lagi alasan lainnya, yang
semua itu bermuara kepada keinginan bersenang-senang dalam kehidupan
dunia (syahwat) atau ego (hawa nafsu).

Karena itulah al Qur’an dalam perspektif lain menjelaskan tentang bahaya
mengikuti hawa nafsu dan syahwat, serta keharusan bagi kita untuk berupaya
mengendalikannya.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran
(QS. 45:23)

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah
kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:43-44)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. 12:53)

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan
dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada
kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan
penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang
yang lalai. (QS. 16:108)

Tidak akan mungkin kita menjadi seorang manusia yang menyerahkan diri kepada
Allah, apabila tarikan-tarikan hawa nafsu dan syahwat masih demikian kuat
terjadi dalam diri kita. Dan semakin hawa nafsu dan syahwat terkendali serta jinak,
maka setahap demi setahap meningkatlah keberserahandirinya kepada Allah Ta’ala.

Berserah Diri (2)

editor : yoedha pamungkas @ 5:56 pm | Kembali Ke Allah | -

Nabi Saw pernah bersabda: “Bahwa di dalam diri manusia ada
segumpal daging, yang apabila shalih maka shalihlah seluruhnya
dan apabila rusak, maka rusaklah seluruhnya, itulah hati”. (HR Bukhari)

Dan apabila kita berbicara tentang masalah berserah diri, maka ‘hati’
adalah fokus utamanya.

Marilah kita coba lihat diri kita.
Apabila dalam hidup ini, kita menghadapi sesuatu hal yang tidak menyenang
kan untuk diri kita. Apa yang terjadi pada hati? Menolak atau menerima?

Apabila menolaknya, maka sesungguhnya segala amal perbuatan yang
merupakan reaksi dari itu adalah amal-amal yang berlandaskan penolakan,
apakah diakibatkan karena keluhan, kebencian, kemarahan, kemalasan, dsb.
Sedangkan apabila hati kita menerimanya, maka segala amal perbuatan
yang merupakan reaksi dari itu bukanlah amal yang berlandaskan penolakan
akan tetapi amal yang berlandaskan penerimaan.

Penyerahan diri kita kepada Allah akan mewujud apabila hati kita siap
menerima terhadap apa yang Allah anugerahkan kepada kita. Walaupun
sangat tidak menyenangkan, tidak sesuai harapan dan keinginan kita.
Manakala hati kita masih selalu dipenuhi oleh penolakan-penolakan saja
(yang diterima hanya yang menyenangkan dan sesuai dengan keinginan kita)
maka mustahil kita akan dapat menjadi hamba yang berserah diri kepada Allah.

Berserah Diri kepada Allah -sekali lagi- bukanlah sebuah sikap fatalism.
Penyerahan diri adalah sebuah kondisi hati kita untuk siap menerima apapun
yang diberikan oleh Allah kepada kita. Senang ataupun tidak senang. Pahit
atau
pun manis. Sehingga amal-amal atau usaha yang dilakukan sebagai reaksi,
bukanlah dikarenakan penolakan atas Karsa Allah.