Seputar Ujian Di Kehidupan Kita

March 15, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 9:42 am | Menata Hati | Komentar (1)

Ujian dari Allah Lewat Pendamping Hidup.

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), bagi mereka laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi kepada mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).”
(QS An Nuur [24] : 23-25)

“(Pada hari pembalasan itu / akhirat) Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
(QS An Nuur [24] : 26)

Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya, begitu seterusnya. Lalu, mengapa Al Qur’an menuturkan pula bahwa ada hamba-hamba Allah yang sangat shaleh, yakni Nuh As dan Luth As, memiliki istri yang durhaka kepada Allah SWT. Juga wanita shalehah seperti Asiyah, ternyata bersuamikan Fir’aun, orang yang sangat ingkar kepada Allah SWT. Walaupun, ada juga yang keduanya shaleh, seperti Rasul SAW dan istri-istrinya. Dan ada yang keduanya durhaka, seperti Abu Jahal dan istrinya.

Bila kita telaah lebih jauh, surat An Nuur ayat 26 diatas ternyata diawali oleh ayat-ayat (23-25) yang menceritakan tentang balasan kehidupan di akhirat kelak. Artinya, kondisi pada ayat 26 tersebut hanyalah berlaku di akhirat, tidak berlaku untuk kondisi di dunia.

Buktinya, dalam kehidupan nyata sehari-hari pun, tak bisa kita pungkiri bahwa tak sedikit wanita shalehah yang memiliki suami yang tidak shaleh atau sebaliknya. Maha Suci Allah dari berbuat dzalim. Dunia memang diciptakan Allah hanyalah sebagai tempat untuk menguji manusia, apakah kita hamba Allah atau bukan, bertakwa atau tidak, layak memasuki surga atau tidak. Karena itu, karakter pasangan seperti apapun yang ditakdirkan Allah untuk kita, maka hal itu pun merupakan ujian bagi kita.

Karena dunia ini hanyalah tempat ujian, bukan tempat pembalasan amal perbuatan, maka keadilan memang tak selalu ada di dunia. Berbeda dengan kehidupan akhirat, perbuatan baik atau buruk sekecil apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan dibalas dengan seadil-adilnya oleh Allah Yang Maha Adil di akhirat kelak.

Justru, salah satu ujian di dunia ini adalah bagaimana kita menyikapi ujian lewat pendamping hidup kita yang masih jauh dari Allah. Ini merupakan salah satu cara untuk menentukan siapa yang tetap teguh pada kebaikan dan siapa yang menyimpang dari jalan-Nya.

Selain itu, dalam perbincangan seputar memilih pendamping hidup pun, seringkali diungkapkan bahwa, “Bila kita menginginkan pasangan yang shaleh, maka kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu agar menjadi wanita shalehah. Harapannya, agar kita bisa mendapatkan pasangan yang shaleh pula.”

Tidak salah ungkapan terebut, hanya saja upaya untuk membentuk karakter shalehah dalam diri bukan sekadar agar mendapatkan pasangan yang shaleh, tapi harus ditujukan semata-mata untuk menghambakan diri kepada Allah SWT, karena sudah selayaknya setiap mahluk di langit dan di bumi tunduk dan patuh kepada-Nya.

Ungkapan diatas bisa jadi dilatarbelakangi karena memahami Surat An Nuur ayat 26 (yang menyebutkan bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan wanita yang keji untuk laki-laki yang keji) sebagai suatu kondisi yang juga akan terjadi juga dalam kehidupan di dunia, padahal tidak demikian halnya.

Semoga Allah SWT menuntun kita agar menjadi seorang muslim yang shaleh dan shalehah, menjadi hamba Allah yang senantiasa memurnikan ketaaatan kepada-Nya. Wallahu’alam.

Memberi Petunjuk Kebaikan

March 14, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 4:44 am | Renungkanlah | -

Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang
yang melakukannya. (HR. Bukhari).

Jaga Mata! = Jaga hati!

March 9, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 4:06 am | Menata Hati | -

Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula.

Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 30-31 Allah swt berfirman:”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “(QS. An Nuur: 30-31).

Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”.
Hati berkata kepada Mata: “Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, “Hendaklah mereka menahan pandangannya” (An-Nur 30), dan kau salahi sabda Rasulullah Saw yang artinya, “Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya”. (H.R. Ahmad)”.
Kemudian mata menjawab dan menyanggah perkataan hati.
Mata berkata: “Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi budak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda:”Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati.” (H.R. Bukhori Muslim).

Abu Hurairah Ra. Berkata, “Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya”. Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu (wahai hati), dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.”Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi.Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita. Tentang menahan pandangan mata, Imam Ibn al-Qoyyim mengatakan dalam kitabnya, al-Jawab al Kafi hal. 129:“Pandangan mata adalah duta syahwat. Menjaga pandangan adalah pangkal penjagaan farj (kemaluan).

Barang siapa melepas bebas pandangan matanya, berarti telah mengiring dirinya menuju lubang-lubang kehancuran.
Nabi saw bersabda: Artinya: “Wahai Ali, janganlah engkau turutkan kilasan pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya). Tidak mengapa untukmu kilasan awal pandangan.”Maksud ‘kilasan’ awal pandangan adalah kilasan pandangan spontanitas yang terjadi tanpa kesengajaan” Imam Ibn Qoyyim mengatakan didalam musnad al-imam ahmad ibn hambal, tertera hadist dari Rasulullah saw:
“Pandangan mata itu laksana anak panah yang beracun dari anak panah-anak panah iblis”

Selanjutnya beliau (Imam Ibn Qoyyim) mengatakan: “Pandangan mata adalah pangkal segala bencana yang menimpa manusia, karena pandangan itu melahirkan detikan hati; detikan hati melahirkan pikiran melayang; pikiran melayang melahirkan nafsu birahi; nafsu birahi melahirkan hasrat; hasrat itu kemudian menguat sampai menjadi tekad yang kuat. Karenanya, tidak boleh tidak, akan terjadilah perbuatan, selagi tidak ada sesuatu hal yang menghalangi”. Oleh sebab itu, ada pujangga yang mengatakan: “Bersabar menahan pandangan mata adalah lebih mudah daripada bersabar terhadap pedihnya derita setelah pandangan itu”.

Karena itu sudah sewajarnya kita menahan pandangan mata dari memandang lelaki atau memandang wanita. Hendaklah kita tidak melihat gambar-gambar yang yang merangsang, yang dipancang di sebagian majalah atau digelar di layar televisi maupun video. Dengan itu, niscaya kita selamat dari dampak buruk. Berapa banyak kilasan pandangan mata yang menyeret seseorang menuju penyesalan dan kegelisaan yang tak berujung. Gejolak api yang membara terjadi akibat percikan api yang dipandang kecil.Oleh karena itu, sepatutnyalah kita sebagai manusia yang lemah selalu berdo’a dan memohon kepada Allah swt agar Ia selalu membimbing hati-hati kita, dan agar kita mampu membimbing hati-hati kita kejalan yang Ia ridhoi. Dan semoga kita mampu membawa dan menjaga amanah nikmat memandang, sehingga kita tidak menyalahi anugrah terbesar ini untuk melihat hal-hal yang tidak Ia ridhoi.Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan mata/ pandangan kami kearah yang Engkau ridhoi. Jauhkan kami dengannya menuju penglihatan dari pandangan-pandangan yang Engkau haramkan sehingga menyebabkan kami terjerumus kejurang maksiat..

Allaahumma ‘aafina fii badaninai, Allaahumma ‘aafina fii sam’ina, Allahumma ‘aafina fii qolbinaa, Allaahumma ‘aafina fii bashorina. Aamiin.

Rezeki Halal

March 3, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 11:38 am | Renungkanlah | -

Rezeki Halal Sumber Keberkahan
oleh: Ustadz Ulin Niam Masruri ‎

Allah telah memerintahkan kepada kita agar selalu mencari rizki dari
sumber yang halal. Dan perintah ini banyak ‎terkandung dalam ayat alquran,
diantaranya dalam surah Annahl ayat 114‎
Yang artinya: “ Maka makanlah lagi baik dari rezki yang telah diberikan
oleh Allah kepadamu, dan syukuriklah ni’mat ‎Allah jika kamu benar-benar
menyembah-NYA.”‎
Demikian juga Islam yang kita anut telah menganjurkan agar kita berusaha
dengan tekun dan memberikan yang terbaik. ‎Sebagai umat yang menjadi
panutan sudah sewajarnya kita menunjukkan bahwa setiap usaha kita adalah
yang terbaik yang akan ‎membuahkan hasil yang baik juga. ‎

Cara memperoleh rezki yang halal.‎
‏ ‏Untuk memperoleh rezki yang halal kita perlu melakukan 3 perkara:‎

Perencanaan.‎

Dengan melakukan perencanaan yang matang terhadap masalah sumber keuangan
dalam kehidupan kita sehari-hari, ‎maka kita akan terhindar untuk
melakukan pengumpulan uang dengan jalan yang tidak di ridloi oleh Allah.‎

Berusaha.‎

Dengan perencanaan yang matang tadi, terus kita praktekkan dalam bentuk
usaha yang benar-benar untuk mencari rezki ‎yang halal. Ketika niat kita
sudah kuat dan bulat, maka seberat apapun tantangan dalam hidup akan dapat
teratasi.‎

Doa.‎

Dalam waktu yang bersamaan kita juga harus selau ingat kepada Allah dengan
memperbanyak doa agar dipermudah dan ‎diberkati usaha kita. ‎

Dampak rezki yang halal

Maka dari itu kita perlu bermuhasabah mengenai usaha dan pekerjaan kita
sekarang ini. Yang menjadi pertanyaan, ‎apakah kita sudah memastikan bahwa
sumber mata pencaharian kita adalah yang halal?.Sangat penting bagi kita
semua untuk ‎menjaga agar tidak ada sesuatu barang yang haram masuk
kedalam tubuh kita. ‎

Membentuk keluarga yang bahagia

Andaikata sesuatu yang kita makan berasal dari rezki yang halal maka dalam
kehidupan akan terasa tenang. Berbeda ‎dengan orang yang memakan dari
rezki yang haram dalam sehari-harinya, keluarga akan berantakan walaupun
kaya dalam ‎materi. Maka jangan menyalahkan kepada anak-anaknya, ketika
nantinya menjadi anak yang susah diatur dan durhaka kepada ‎kedua orang
tua. Karena memang sumbernya berasal dari sesuatu yang tidak diridloi oleh
Allah.‎
‏ ‏Banyak kasus kalau kita melihat fenomena dalam kehidupan dimasyarakat,
anak berani kepada orang tua. Itu tidak lain ‎adalah dampak daripada rezki
haram yang mereka makan dalam kehidupan sehari-hari.‎

Rasulullah telah bersabda: “ Tiada mendatangkan faedah bagi daging yang
tumbuh dari sumber yang haram, ‎melainkan nerakalah tempat yang sewajarnya
bagi daging itu.” (HR Imam Turmudzi)‎
Hidup lebih terarah.‎

Dengan rezki yang halal akan menjadikan kehidupan kita semakin nikmat dan
terarah. Menerima apa yang telah ‎diberikan oleh Allah kepada kita tanpa
harus terus melihat keatas dalam masalah harta. Ketika hati kita selalu
berpikir masalah ‎kekayaan, maka yang terpikir adalah bagaimana
memperoleh sesuatu yang belum ada pada diri kita, tanpa melihat
kenikmatan ‎yang telah kita terima.‎

Rezki haram pangkal kehancuran

Kalau kita mau menengok kondisi dimasyarakat sekarang ini, betapa banyak
orang yang tidak lagi memiliki rasa malu ‎dalam mencari sesuap nasi
sehingga mendorong terjadinya praktek suap, tidak amanah terhadap
pekerjaan sehingga dampaknya ‎adalah keingimnan manusia cepat kaya dan
menganggap harta kekayaan sebagai sesuatu yang paling penting dalam
kehidupan.‎

Maka tidak berlebihan kalau kita sering mendengar banyak ungkapan dalam
kehidupan sehari-hari, mencari rezki yang ‎haram saja susah apalagi
mendapat rezki yang halal atau kita akan senantiasa miskin jika tidak
mencar rezki tambahan dari ‎sumber yang haram. ‎

Rasulullah menjelaskan hal ini dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah “ Bakal datang kepada ‎manusia suatu masa orang tidak
lagi peduli terhadap apa yang diambilnya, apakah itu halal atau haram.”‎
Demikian juga dari Ibnu Umar berkata: “ Barang siapa yang membeli pakaian
dengan harga sepuluh dirham, satu ‎dirham diantaranya uang yang haram,
maka Allah tidak akan menerima sholatnya selama pakaian itu masih
dipakainya. ‎Kemudian Ibnu Umar memasukkan jarinya kedalam dua telinganya,
lalu berkata: “ biarkanlah telinga ini tuli kalau tidak mau ‎mendengarkan
perkataan dari Rasulullah ini.” ( HR Imam Bukhori)‎
‏ ‏
Anggapan yang demikian adalah tidak benar sama sekali. Sebab Allah telah
menjamin rezki kita dan memberikan rezki ‎kita sesuai dengan kadar yang
telah ditentukan Allah yang kita tidak tahu berapakah kadar tersebut. Oleh
karena itu kita perlu ‎terus berusaha, bekerja dan mencari rezki yang
halal. kita tidak boleh tergantung pada nasib atau mengeluh nasib, karena
itu tidak ‎membawa faedah.‎

Sebelum kita akhiri marilah kita menengok sebentar tentang kisah seorang
sahabat yang dapat kita jadikan sebagai suri ‎tauladan dalam masalah
kehati-hatiannya dalam makanan yang haram. Beliau adalah Abu Bakar,
seoramg Khalifah pertama ‎setelah wafatnya Rasulullah. Dalam suatu hari
beliau makan sesuatu, lalu hambanya memberitahu bahwa makanan yang barusan
‎dimakan tadi adalah hasil dari pekerjaannya sebagai tukang tilik sebelum
dia masuk Islam. Mendengar hal tersebut beliau lantas ‎mengeluarkan
makanan tersebut dan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya. Lalu
hambanya menegur: “Mengapa engkau ‎wahai baginda mengeluarkan makanan yang
sudah engkau makan?. Maka beliau menjawab: “ Aku pernah mendengar
Rasulullah ‎bersabda bahwa badan yang tumbuh subur dengan makanan yang
haram pasti akan merasakan api neraka. Oleh karena itu aku ‎memaksa
makanaan itu keluar, takut kalau-kalau ia menyuburkanku.‎

Semoga dengan niat untuk mencari rezki yang halal serta berusaha, rezki
yang kita terima diberkati oleh Allah. Rezki ‎yang penuh berkah akan
menjadikan kita bukan saja umat yang dijadikan suri tauladan akan tetapi
umat yang memberikan ‎sumbangan kepada bangsa, agama dan negara. Wallahu
A’lam Bisshawab

2 Nikmat

March 1, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 11:40 am | Renungkanlah | -

Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat
dan waktu senggang (HR. Bukhari)