Ziarah Kubur

April 22, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 2:37 am | Renungkanlah | -

SEBUAH ZIARAH KE KUBUR SENDIRI

(oleh Taufiq Ismail)

Di bawah kemah di Arafah
Diterjang panas 50 derajat
Hamba letakkan tulang belulang hamba
Mayat hamba terbaring
Ini sebuah simulasi
Inilah inventarisasi

Menjelang pengembalian segala barang pinjaman
Kepada Yang Maha Empunya
Semua benda yang sempat hamba akumulasi
Selama x tahun
Barang-barang bergerak, barang-barang tak bergerak

Surat-surat dunia, dokumen-dokumen fana
Isteri, anak, cucu, ilmu, puisi, budaya
Ternyata mereka bukan milik hamba
Mereka bergerak serentak
Tapi tepat di tepi kubur ini
Mereka semua berhenti

Hamba kembalikanlah gumpalan protein, air dan garam ini
Pada Dikau Yang Maha Empunya
Mudah-mudahan masih utuh amanatMu ini, ya Razaq
Empat ratus tulang-belulang
Tiga belas persendian utamanya
Enam ratus otot daging yang telah bertugas sempurna

Seperangkat urat syaraf, susunan darah dan pencernaan
Yang kerjanya demikian fantastik
Sesudah x tahun lamanya kupinjam adi-komputer
Hadiah Dikau ini, ya Rabbi
Sepuluh ribu juta neutron dalam otak
Yang Dikau pinjamkan ini
Dengan sinyal-sinyal pikiran sekencang 400 kilometer per jam Wahai betapa
sayang Dikau pada lempung bergaram Hamba, khalifah-Mu ini Yang Dikau
Hadiahi cerdas dan ilmu Tapi ini semuanya pinjaman hanya Bagaimana cara
hamba mengembalikannya Hamba malu, hamba malu

Dan bila regangan terakhir akan disentakkan
Dan bila hidup mulai disibakkan
Tak sempat lagi meninjau inventarisasi
Semua benda yang diakumulasi
Mudah-mudahan semuanya sudah rapi
Karena hanya YaSin yang terdengar kini
Dan isteriku yang mulai merah matanya

Ya Muqallibal Qulub
Jangan palingkan hati hamba
Hamba kembali pada Dikau
Dalam keadaan tumpas, fakir dan fana
Seluruh barang pinjaman hamba kembalikan
Mudah-mudahan semuanya utuh
Kalaulah ada bagian dari lempung bergaram ini
Aus dan longgar pasangannya
Ginjalku berbatu
Jantungku menyempit aortanya

Mohonlah Dikau terima sebagai barang yang susut
Dan inilah tumpukan dosaku
Tak dapat aku sembunyikan dari pandanganMu, ya Bashir
Akan Kau apakan hamba, ya Ghafur
Bukankah ubun-ubunku sudah sejak dulu dalam genggaman-Mu, ya Malik? Betapa
sakit tak terperi

Bahaya Riya

April 21, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 2:28 am | Menata Hati | -

RIYA PENGHAPUS AMAL

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah bahwa Rasulullah
shalallahu alaihi wa salam bersabda:

‘’Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang
yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap
Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya.
Maka Allah bertanya kepadanya, ‘’Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat
tersebut?'’ Maka ia menjawab, ‘’Sungguh aku telah berperang karena Engkau,
sehingga aku mati syahid.'’ Maka Allah berfirman, ‘’Engkau dusta. Akan
tetapi, engkau berperang supaya dikatakan pemberani, dan pujian itu telah
engkau dapatkan,'’ kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan
wajahnya ke dalam api neraka.

Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca
Al-Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), maka diberitahukan
kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya
kepadanya, ‘’Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?'’ Orang
ini menjawab, ‘’Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya,
dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau.'’ Maka Allah berfirman, ‘’Engkau
berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan ‘alim dan membaca
Al-Qur’an supaya dikatakan qarri’, dan pujian itu telah engkau dapatkan.'’
Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api
neraka.

Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah, maka Allah memberikan
kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini didatangkan (menghadap
Allah). Diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya.
Maka Allah bertanya kepadanya, ‘’Apa yang telah engkau lakukan di dalam
nikmat tersebut?'’ Orang ini menjawab, ‘’Tidaklah aku meninggalkan satu
jalan yang Engkau cintai atau diinfakkan di dalamnya, kecuali aku
menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,'’ maka Allah berfirman,
‘’Engkau dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan, dan
pujian itu telah dikatakan.'’ Kemudian orang ini diperintahkan agar
dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. (HR Muslim)

Apa yang menyebabkan tiga orang ini dicampakkan Allah ke dalam neraka
jahannam? Bukankah mereka telah melakukan amalan-amalan yang mulia? Bukankah
mereka telah bersusah payah melakukannya? Tiada lain karena mereka melakukan
semua itu bukan karena Allah, tapi karena ingin dipandang oleh manusia.

Jihad di Jalan Allah

Jihad, merupakan amalan yang mulia, bahkan sebagaimana disabdakan oleh
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

‘’Dan puncak agama adalah jihad fi sabilillah.'’ (HR Tirmidzi)

Dan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

‘’Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu
mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.'’
(QS Al-Baqarah: 154)

Dan masih banyak lagi ayat maupun hadits yang menjelaskan keutamaan jihad
dan orang yang mati syahid. Akan tetapi, tatkala amalan yang agung ini
dicampuri dengan perbuatan riya’, maka hilanglah pahalanya. Dari sini, maka
kita perlu mengetahui yang disebut dengan jihad fi sabilillah dan
ciri-cirinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan
sahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: Seorang Badui datang kepada
Rasulullah dan bertanya, ‘’Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena
harta rampasan, seseorang berperang karena ingin terkenal, dan seseorang
berperang agar dilihat oleh manusia. Siapakah yang di jalan Allah?'’ Maka
Rasulullah menjawab,

‘’Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada
di jalan Allah. (muttafaqun ‘alaih).

Inilah jihad yang sebenarnya, yaitu tidak ada tujuan lain, kecuali dalam
rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Mencari dan Mengajarkan Ilmu serta Membaca Al-Qur’an

Selanjutnya diantara orang yang pertama akan dihakimi oleh Allah adalah
seseorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang membaca
Al-Qur’an. Tiga amalan ini merupakan amalan yang sangat mulia dan banyak
pahalanya. Akan tetapi, tatkala tiga amalan tersebut bukan karena Allah
semata, maka menjadi hilanglah pahalanya, bahkan pelakunya diancam oleh
Allah dengan neraka. Dalam sabdanya, Rasulullah mengancam seseorang yang
mencari ilmu bukan karena Allah,

‘’Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya diharapkan wajah Allah,
kemudian dia tidak mempelajarinya, kecuali karena ingin mendapatkan dunia,
maka dia tidak akan mencium bau surga dan pada hari kiamat. (HR Abu Dawud).

Berinfaq di Jalan Allah

Adapun orang yang ketiga adalah orang yang berinfak. Banyak ayat-ayat maupun
hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya firman
Allah:

‘’Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus
biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 261)

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

‘’Baransiapa yang bersedekah dengan seukuran buah kurma dari hasil usaha
yang halal -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka Allah akan
menerima dengan tangan kanannya, kemudian akan mengembangkan (shadaqah
tersebut) untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang diantara kalian
mengembangkan anak kudanya, sehingga menjadi seukuran gunung uhud
(muttafaqun alaih).

Ini merupakan keutamaan besar yang Allah berikan kepada orang-orang yang mau
bersedekah. Akan tetapi, apabila seseorang menginfakkan hartanya bukan
karena Allah, yang karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka didapat
bukan pahala, tetapi siksa dari Allah.

Khatimah

Hadits yang disebutkan di atas menunjukkan pentingnya masalah ikhlas dalam
beribadah, dan menunjukkan betapa berbahayanya perbuatan riya’, hingga dapat
menghapus amalan yang dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, riya’
termasuk perbuatan yang sangat ditakutkan Rasullah, sebagaimana sabda Beliau
shalallahu alaihi wa salam:

‘’Sesungguhnya yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik ke
cil. Beliau ditanya tentangnya, maka Beliau mejawab, yaitu riya’ (HR Ahmad).

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada umatnya agar
selalu meminta perlindungan Allah dari perbuatan syirik, baik yang besar
maupun yang kecil. Ketahuilah, bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat
diterimanya ibadah seseorang. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang,
kecuali jika hanya diberikan kepada Allah.

Semoga amalan Allah melindungi kita dari perbuatan riya’ dan menjadikan kita
sebagai orang yang ikhlas. Amin

Sumber:
Bonus Khutbah Jum’at Majalah As Sunnah Edisi 02/VII/1424 H

Sakitku AmpunanMu

editor : yoedha pamungkas @ 2:13 am | Islam & Kesehatan | -

Sakit Sebagai Kafarat

Hidup tak selalu berjalan lurus, menyenangkan, dan membahagiakan. Suatu
saat manusia akan mengalami siklus yang membuatnya tidak dapat melakukan
apa-apa. Dan, karena siklus inilah, Allah SWT menuntut umat manusia untuk
menghadapinya dengan baik, sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan siklus
kehidupan ini juga, umat manusia sesungguhya diuji, apakah tetap tegar dan
optimistis, ataukah putus asa.

Sakit adalah salah satunya. Tak selamanya manusia berada dalam kondisi
sehat, yang memungkinkannya dapat melakukan apa saja. Suatu waktu ia pasti
akan didera oleh satu hal yang membuatnya harus terbaring tak berdaya di
atas ranjang, atau salah satu anggota badannya tidak berfungsi dengan baik.
Pada kondisi seperti ini, godaan untuk berkeluh kesah dan putus asa akan
selalu menyerangnya setiap saat, karena orang sakit potensial untuk putus
asa.

Sakit sesungguhnya adalah batu ujian bagi seorang Mukmin. Sakit bukanlah
adzab yang dilimpahkan karena kebencian Allah, tapi justru itu adalah
bagian dari kasih dan perhatian Allah SWT yang begitu besar kepada orang
beriman. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Sesungguhnya seorang yang beriman
ketika didera musibah sakit, kemudian Allah menyembuhkannya, maka itu
adalah kafarat (penghapus) bagi dosa-dosa yang ia lakukan sebelumnya. Ia
sekaligus menjadi pesan berharga untuk menghadapi masa yang akan datang.'’
(HR Abu Dawud).

Mengapa Allah menghapus dosa-dosa orang Mukmin yang sedang sakit? Ada dua
hal yang menjadi alasannya. Pertama, faktor kesabaran, ketabahan, dan
optimisme seorang Mukmin. Sakit justru adalah ujian kesabaran yang mesti
dihadapi dengan sikap lapang dada dan besar hati. Dalam beberapa ayat
Alquran, Allah SWT sering menyitir bahwa Dia akan selalu menyertai orang-
orang yang sabar dalam menerima ujian, tak terkecuali sakit
ini. ‘’Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar.'’
(QS 2: 153).

Kebersamaan Allah dengan Mukmin yang sakit adalah rahmat yang tiada
terkira. Maka, biarpun rasa sakitnya teramat parah, namun karena ia merasa
bahwa Allah selalu menyertainya, maka hampir-hampir tidak merasakan. Yang
ada hanyalah kedamaian dan ketenteraman berada selalu di sisi-Nya.

Kedua, faktor kesadaran yang timbul akibat sakit tersebut. Sakit
sesungguhnya adalah waktu bagi seseorang untuk merenung dan mengingat-ingat
segala perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Seorang Mukmin yang sakit akan
menjadikan sakit itu justru sebagai ladang introspeksi diri, sejauh mana ia
melakukan segala perintah Allah SWT atau menjauhi larangan-Nya, pada saat
ia belum sakit. Sakit sekaligus menjadi pesan bahwa manusia sejatinya
adalah mahluk lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sakit yang diderita
adalah bentuk konkretnya.

Dengan demikian, orang yang sakit seharusnya menyadari bahwa sakit justru
merupakan karunia tak terkira baginya. Karena, dengan demikian, berarti
Allah SWT masih peduli dan perhatian padanya. Kafarat dosa tentu adalah
salah satu bagian dari itu. Di balik itu tersimpan pesan yang lebih besar:
Allah SWT sesungguhnya sedang meninggikan derajat seorang Mukmin yang
sedang sakit. Wallahu a’lam.

Ucapkanlah Allah ! Untuk Kesehatanmu

editor : yoedha pamungkas @ 1:47 am | Islam & Kesehatan | Komentar (2)

Pengucapan ‘Allah’ dan Kesehatan

FENOMENA - Dalam sebuah penelitian di Belanda yang dilakukan oleh seorang profesor psycologist yang bernama Vander Hoven [ VH ], dimana telah mengadakan sebuah survey terhadap pasien di rumah sakit belanda yg kesemuanya non muslim selama tiga tahun. Dalam penelitian tersebut VH melatih para pasien untuk mengucapkan kata ALLAH [ Islamic pronouncing ] dengan jelas dan berulang-ulang. Hasil dari penelitian tersebut sangat mengejutkan, terutama sekali untuk pasien yang mengalami gangguan pada fungsi hati dan orang yang mengalami stress / ketegangan [ tension ]AL Watan, surat kabar Saudi sebagaimana telah mengutip dari peryataan professor VH tsb, yang mengatakan bahwa seorang muslim yang biasa membaca Al-Qur’an secara rutin dapat melindungi mereka dari penyakit mental dan penyakit-penyakit yang ada hubungannya [ psychological diseases ].

VH juga menerangkan bagaimana pengucapan kata ALLAH tsb sebagai solusi dari kesehatan , ia menekankan dalam penelitiannya bahwa huruf pertama dalam ALLAH yaitu ‘A’ dapat melonggarkan [ melancarkan ] pada jalur pernafasan [espiratory system ], dan mengontrol pernafasan [ controls breathing ].danuntuk huruf konsonan ‘ L ‘ dimana lidah menyentuh bagian atas rahang dapat memberikan efek relax, juga VH menambahkan bahwa huruf ‘ H ‘ pada ALLAH tsb dapat menghubungkan antara Paru-paru dan Jantung dimana dapat mengontrol system dari denyut jantung [ heart beat ].

Subhanallah, sungguh luar biasa kebesaran Allah SWT ini, dimana penelitian yang dilakukan oleh seorang profesor non muslim yang tertarik dan meneliti akan rahasia Al-Qur’an ini sangat mengejutkan para ahli, kesehatan di Belanda.

Sekarang bagaimana dengan kita sebagai seorang muslim yang meyakini
akan kebesaran kitab Suci Al Qur’an, sudahkan membaca dan mengamalkannya..?
Allah says : We will show them our signs in the universe and in their
own selves, until it becomes manifest to them that this [ Quran ] is the
truth.

[ Sumber dari Indonesian Moslem Student Association of North America ]

Positive Thinking

editor : yoedha pamungkas @ 1:31 am | Menata Hati | -

Membangun Positive Thinking

Kecemasan jiwa selalu menempati posisi puncak di antara beberapa penyakit masa kini. Buku-buku dan penelitian-penelitian yang membahas tema ini sudah banyak. Meskipun begitu, fenomena kecemasan ini terus berlangsung.

Islam telah mengatasi persoalan ini dengan antisipasi penyembuhan yang telah dikenal sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Berikut ini adalah beberapa kiat Islam dalam membangun sikap positive thinking sehingga kita terhindar dari kecemasanjiwa.

Luruskan Pikiran Anda

Allah berfirman,

”…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)

Ayat Al-Qur`an di atas adalah hukum perubahan dalam kehidupan di dunia. Oleh karenanya, keadaan Anda tidak akan berubah dari satu kondisi menjadi kondisi yang lain, kecuali dengan peran tangan Anda sendiri. Demikian pula dengan mukjizat. Memang, semuanya hanya akan terjadi dengan takdir Allah, namun dalam menjadikan segala sesuatu itu, Allah menggunakan sebab. Selama Anda belum mengenal hukum perubahan ini dengan baik, maka segala upaya Anda untuk mengatasi rasa cemas atau agar terbebas dari kesusahan, tidak akan berguna. Anda tidak akan mampu terbebas dari rasa cemas kecuali jika Anda sendiri bersikeras untuk mengatasi hal ini. Anda harus berusaha untuk mencari jalan agar terbebas dari rasa itu. Akan tetapi, bagaimana hal itu dapat terwujud?

Semua itu dapat terwujud dengan mengubah dan meluruskan gaya berpikir Anda. Anda tidak akan merasa bahagia jika memenuhi kepala Anda dengan pikiran kesedihan dan beberapa kesusahan yang berat untuk dipikul.

Hidup Anda tentu merupakan hasil berpikir Anda. Oleh karena itu, dengan kapasitas Anda, Anda dapat mengubah jalan hidup Anda dengan cara mengubah jalan berpikir Anda. Dengan kapasitas Anda pula, Anda bisa sakit atau juga menikmati sehat.

Hilangkan Penyakit Hati

Sering kali, kita sendirilah yang membuat rasa cemas terjadi pada diri kita. Juga kita sendiri yang memilih terjadinya kesusahan dan kesedihan. Bahkan lebih dari itu, mungkin ada di antara kita yang menyiksa diri dengan penyakit hati pada diri kita. Penyakit ini tentu bukan karena virus atau sejenis mikroba, akan tetapi penyakit akibat adanya kerusakan pikiran kita dan akibat sedikitnya iman kita kepada Allah swt..

Salah satu contoh penyakit tersembunyi ini adalah iri. Orang yang berpenyakit iri, akan lebih menyakiti dirinya sendiri daripada menyakiti orang lain. Orang yang iri ini akan menyiksa diri sendiri karena suatu hal yang bukan miliknya.

Saudara sesama muslim, jauhilah sifat iri. Larilah jauh-jauh dari hal itu seperti Anda lari karena takut singa. Jangan pernah iri kepada seseorang yang telah Allah berikan karunia-Nya. Dengan iri itu, Anda telah menyalahkan keadilan Allah azza wa jalla, Allah Mahatinggi dari semua itu. Jika Anda iri, maka seakan-akan Anda mengatakan kepada Allah, “Engkau telah memberi kepada seseorang yang tidak berhak menerimanya dan Engkau malah meninggalkanku.” Astagfirullah. Apakah Anda ingin Anda sendirilah yang membagi-bagi rezeki?

Cintailah Orang Lain Seperti Mencintai Diri Sendiri

Ini bukan sekadar nasihat dan bukan sekadar kata-kata hikmah. Ini merupakan obat jiwa dari sekian banyak penyakit jiwa yang ada. Ini juga merupakan hukum untuk membawa kebahagiaan bagi jiwa manusia, bahkan sesungguhnya, perkataan ini merupakan ucapan manusia pilihan, yaitu Nabi Muhammad saw.. Merupakan hal yang sangat penting jika kita memegang teguh sabda di atas karena jiwa manusia akan menjadi baik bila berpegangan dengan perkataan ini. Keimanan seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan menjalankan makna perkataan ini. Rasulullah saw. bersabda,

“Salah seorang dari kalian tidak dikatakan beriman, hingga mencintai saudaranya seperti halnya mencintainya dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

Ketika Anda mencintai saudara Anda seperti Anda mencintai diri sendiri, dada Anda akan terasa lapang, jiwa Anda terasa tenang, dan Anda akan merasakan puncak kepuasan. Hanya dengan itulah Anda akan merasakan manisnya iman. Manisnya iman ini tidak dapat dirasakan dengan lisan, melainkan dengan hati. Anda juga akan merasakan kebahagiaan jiwa yang menyeluruh. Tahukah Anda mengapa hal ini dapat terjadi? Karena kebahagiaan Anda menjadi bertambah, ketika Anda melepaskan diri dari rasa benci dan memenuhinya dengan rasa cinta. Kebahagiaan Anda menjadi bertambah ketika Anda menanggalkan titik-titik hitam. Titik-titik hitam ini bisa berupa rasa dengki, benci, dendam, iri, dan lain sebagainya.

Jangan Sedih dengan Masa Lalu, Pikirkan Masa Kini

Anas r.a. berkata Rasulullah saw. bersabda,

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kesusahan dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari perasaan lemah dan malas, dari rasa takut dan bakhil, dari terjepit oleh utang dan penguasaan orang-orang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adanya perasaan sedih karena masa lalu, juga karena mengingat peristiwa masa lalu yang tidak mungkin kembali lagi merupakan suatu kelemahan yang akan menjadikan seseorang merasa terus terbelenggu dan hanya akan menjadikannya lemah dan tak berdaya.

Karena itulah, Rasulullah saw. melarang kita untuk menyesali hal-hal keduniaan yang terjadi pada masa lalu. Rasulullah saw. juga melarang seseorang mengatakan, “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya….”

Rasulullah saw. bersabda,

“Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini-begini.’ Katakanlah, ‘Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki maka itu terjadi.’ Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR Muslim)

Tidak menyesali masa lalu bukan berarti seseorang tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu yang bermanfaat baginya. Maksud hadits Rasulullah saw. di atas adalah membimbing seorang muslim agar bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu yang bermanfaat baginya lalu agar meminta pertolongan Allah dalam hal ini. Hadits ini kemudian menjelaskan pula bahwa barangsiapa yang meminta pertolongan Allah, maka ia selamanya tidak akan menjadi lemah. Dalam hadits ini, ada motivasi bagi seorang muslim agar percaya diri atas kesuksesannya dan agar tidak berputus asa.

Wallahu a’lam bish-shawwab

disadur dari Buku Membangun Positive Thingking