Doa akhir tahun dan awal tahun

December 17, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 7:08 am | Doa... | -

Assalammualaikum wr wb.

Tahun baru islam sebentar lagi jatuh pada tanggal 18 desember 2009 yaitu 1 muharram 1431 Hijiriyah, dan biasanya kita dalam akhir dan awal tahun selalu berdoa, dan doanya sebagai berikut :

Doa Akhir Tahun dibaca 3 kali pada akhir waktu Ashar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah.siapa saja yang membaca doa ini, maka syaitan berkata :“Kesusahan bagiku dan sia-sia lah pekerjaanku menggoda anak Adam pada tahun ini dan Allah binasakan aku satu saat ini juga. Dengan sebab membaca doa ini, Allah akan ampunkan dosanya setahun”

Doa Awal Tahun dibaca 3 kali selesai maghrib pada malam satu Muharram.Barang siapa yang membaca doa ini, Syaitan berkata :-“Telah amanlah anak Adam ini daripada godaan pada tahun ini karena Allah telah mewakilkan dua Malaikat memeliharanya daripada fitnah Syaitan”.

Ini lah Doa nya :

Barangsiapa yang membaca doa AKHIR tahun ini, maka syaitan akan berkata: “Hampalah kami di sepanjang tahun ini“.
Doa Akhir Tahun:

Bismillahirohmannirrohim
Washollohu alla sayidina muhamaddin waala ahlihi wa syohbihi wa sallam. Allahuma ma amiltu fihadihis sanati mimma nahaitani anhu. Falam atub minhu walam tardhohu walam tansahu wahalamta ala ba`da qudrotika alla ukuwbati illa taubati minhu ba`da jurati alla maksiatika fa inna astargfirukha fag firli wamma amiltu fimma mimma tardhohu wawaadtani allaihi sawaba faas alluka allohuma ya khariymu ya dzaldzalali wal ikhromi. Antataqoballahu mina thatho rojanni minka yakharimmu wa shollahu alla sayidina muhammadin nabiya umma wa alla ahlihi wa shobihi wa sallam.
“ Allah SWT bersalawat ke atas penghulu kami Muhammad SAW, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan kesejahteraan ke atas mereka. Wahai Tuhan, apa yang telah aku lakukan dalam tahun ini daripada perkara-perkara yang Engkau tegah daripada aku melakukannya dan aku belum bertaubat daripadanya. Sedangkan Engkau tidak ridha dan tidak melupakannya. Dan aku telah melakukannya di dalam keadaan di mana Engkau berupaya untuk menghukumku, tetapi Engkau mengilhamkanku dengan taubat selepas keberanianku melakukan dosa-dosa itu semuanya. Sesungguhnya aku memohon keampunanMu, maka ampunilah aku. Dan tidaklah aku melakukan yang demikian daripada apa yang Engkau ridhainya dan Engkau menjanjikanku dengan pahala atas yang sedemikian itu. Maka aku memohon kepadaMu. Wahai Tuhan! Wahai yang Maha Pemurah! Wahai Yang Maha Agung dan wahai Yang Maha Mulia agar Engkau menerima taubat itu dariku dan janganlah Engkau mengabaikan harapanku kepadaMu Wahai Yang Maha Pemurah. Dan Allah bersalawat ke atas penghulu kami Muhammad, ke atas ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya dan mengkharuniakan kesejahteraan ke atas mereka”

Barangsiapa yang membaca doa awal tahun ini, insya Allah dirinya akan terpelihara daripada gangguan dan godaan syaitan di sepanjang tahun tersebut.

Doa Awal Tahun:

Bismillahirohmannirrohim
Washollohu alla sayidina muhamaddin waala ahlihi wa syohbihi wa sallam. Allahuma anta abadiul khodimu awallu.Wa alla fadlikal adhimi wujudikal muawali wahadaamu jadidu kod akhbala ilaina nasaalukal mismata.Fihiminasyaitoni waauliyaihi wajunudihi wal auna alahadihinafsilamaroti bisuui waistighollu bima yukhoronumi illaika julfa ya dzaldzalali wal ikhromi.Yaa arhamar rohiminna wa shollahu alla sayidina muhammadin nabiya umma wa alla ahlihi wa shobihi wa sallam.
“ Allah SWT bersalawat ke atas penghulu kami Muhammad SAW, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan kesejahteraan ke atas mereka. Wahai Tuhan, Engkaulah yang kekal abadi, yang qadim. yang awal dan ke atas kelebihanMu yang besar dan kemurahanMu yang melimpah dan ini adalah tahun baru yang telah muncul di hadapan kami. Kami memohon pemeliharaan dariMu di sepanjang tahun ini dari syaitan dan pembantu-pembantunya dan tentara-tentaranya dan juga pertolongan terhadap diri yang diperintahkan melakukan kejahatan dan usaha yang mendekatkanku kepadaMu Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Wahai Tuhan Yang Maha pengasih dari mereka yang mengasihi dan Allah bersalawat ke atas penghulu kami Muhammad. Nabi yang ummi dan ke atas ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya dan kesejahteraan ke atas mereka.”

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1431 H.
Mohon Maaf Lahir dan Batin atas semua kesalahan dan kekhilafan yang pernah saya lakukan sengaja atau pun tidak disengaja, berharap Allah mengampuni dan merahmati kita semua di tahun depan. Amiin.

Wassalamualaikum Wr Wb.
Novri

Doa TAK TERJAWAB…

December 11, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 5:52 pm | Doa... | -

Pada suatu hari Ali binAbi Thalib ra., berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).

Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :

1. Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu.
2. Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?
3. Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan.
4. Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
5. Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu?
6. Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.
7. Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.
8. Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.

Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.

Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki dating kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku paham apa maksudmu?”

“Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60). Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.

“Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far.

“Tidak,” jawab orang itu.

“Lalu ayat yang kedua apa?” Tanya Imam Ja’far lagi.

“Ayat yang kedua berbunyi “Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin” (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya,” ujarnya.

“Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far lagi.

“Tidak,” jawabnya.

“Lalu mengapa?” Tanya imam Ja’far.

“Aku tidak tahu,” jawabnya.

Imam Ja’far kemudian menjelaskan, “Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo’a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do’amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo’a kepada Allah, maka berdo’alah kepada-Nya dengan Jihad Do’a. Tentu Alah akan menjawab do’amu walaupun engkau orang yang berdosa.”

“Apa yang dimaksud Jihad Do’a?” sela orang itu.

Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.

Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.

Kemudian bacalah, “Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau rdhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do’amu,” papar Imam Ja’far.

Sudah Benarkah Cara Kita Berkurban?? Merenungi Makna Sebuah Pengorbanan..

November 26, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 7:09 am | Renungkanlah | -

بســم الله الرحمن الرحيــم ، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره ،ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليّا مرشدا
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أنّ مهمدا عبده ورسوله
عمّا بعد ،

الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر و لله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat, kaum mu’minin dan mu’minaat, para aa’idiin dan aa’idaat.

Pagi ini, kita kembali melaksanakan iedul adha, merayakan dan mensyukuri iedul qurbaan, hari dimana umat islam di seluruh penjuru dunia berbondong bondong melaksanakan sunnah Nabi suci Ibrahim a.s. melaksanakan shalat sunnat berjamaah yang dilanjutkan dengan ibadah pemotongan hewan yang kita kurbankan untuk Allah.

Sepanjang malam hingga fajar menyingsing tadi pagi, kita semua mendengarkan takbir berkumandang tiada henti-hentinya,

Sebuah takbir yang semua umat Muhammad Saw. kumandangkan, sebagai bentuk pengagungan kebesaran Allah, dan pengakuan atas kemaha-kecilan manusia,

sebuah takbir yang menjunjung ke maha tinggian Allah dan merendahkan kedudukan manusia yang lemah ini,

sebuah takbir yang seandainya setiap ummat mentafakkurinya akan sangat berpengaruh besar dalam menggugurkan kesombongan kita.

Karena itu alangkah berbahagianya apabila di dalam takbir demi takbir kita pun seluruhnya merasakan kemaha lemahan kita, kefakiran kita dan ketidak berdayaan dan merasakan pula hinanya manusia ketika diliputi oleh sebuah kesombongan dan kedengkian.

Allahuakbar, Allahu akbar Allahu akbar wa lillahilhamd.

Hadirin para a’idin dan a’idaat. Pada kesempatan di pagi indah penuh kesucian ini marilah kita renungkan bersama-sama hikmah ilahiyah yang sangat luhur dari jejak hidup seorang Ibrahim a.s.

Sebuah jejak kehidupan yang sangat menakjubkan dari diri seorang Ibrahim yang semoga dapat dijadikan model ideal kehidupan kita pula.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillaahil-hamd

Setelah Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari pembakaran Raja Firaun Namrud, ia mengorbankan seribu ekor domba jantan, tiga ratus ekor sapi dan seratus ekor unta sebagai wujud rasa syukurnya.

Tidak pernah ada orang yang lebih dermawan daripada sang Ibrahim di saat itu.

Ketika ditanya kenapa ia rela mengurbankan begitu banyak harta, Ibrahim menjawab,

“Aku telah siap untuk berkorban nyawa bagi Rabbku, mengapa aku harus keberatan mengorbankan harta? Lagipula sebenarnya kekayaan siapakah yang aku kurbankan? Hidup dan segala hartaku semuanya kepunyaan Allah. Apa yang telah aku korbankan tidak ada artinya. Aku bahkan akan mengorbankan bagi Allah milikku yang paling berharga. Jika aku dianugerai seorang anak, aku akan mengorbankannya jika Allah menghendaki.”

Itulah apa yang telah diungkapkan junjungan kita Ibrahim a.s. lalu Bagaimana dengan kita? Adakah diantara kita yang mampu berkata hal yang sama?

Dan sekalipun kita tidak berada pada tingkat Nabi Ibrahim, seberapa ikhlaskah kita mengorbankan sebagian harta yang telah Allah limpahkan kepada kita, memberikan milik kita untuk sebuah pengabdian dan demi kepentingan serta kemaslahatan orang lain?

Karena sesungguhnya orang yang tidak mau menolong orang lain atau beramal bagi orang lain, ia bukanlah sifat dasar seorang manusia, apalagi orang yang dekat kepada Allah.

Beberapa tahun kemudian, Allah menganugerahi Nabi Ibrahim seorang Putra bernama ismail. Ismail telah menunjukkan tanda-tanda kenabiannya sejak masih anak-anak.

Ia sering ikut bepergian kemana-mana, bersama dengan ayahnya dan sekalipun masih kecil, ia sering ikut serta dalam diskusi tentang agama yang rumit.

Kemudian dalam sebuah mimpi, Allah menyampaikan kepada Nabi Ibrahim, “Wahai ibrahim, penuhilah janjimu! Engkau berkata jika engkau mempunyai seorang putra, engkau akan mengorbankannya bagi-Ku. Sekarang engkau harus memenuhi janjimu.”

Keesokan harinya, Ibrahim bertafakkur tentang mimpinya semalam, Walaupun Allah pernah muncul kepadanya dalam mimpi sebelumnya, ia menyadari pula bahwa Allah melarang pengorbanan manusia.

Tidak ada sebelumnya seorang nabi yang pernah diminta untuk mengorbakan seseorang. maka sebagai gantinya ia mengorbankan seraatus ekor unta.

Malam itu Allah datang lagi kepadanya lewat mimpi dan sekali lagi memberitahukan kepadanya untuk memenuhi janjinya. Sekali lagi dalam tafakkurnya keesokan harinya nabi ibrahim as berpendapat bahwa Allah tidak pernah menginginkan pengorbanan manusia. Karenanya kembali ia mengorbankan seratus ekor unta.

Malam yang ketiga, sekali lagi Allah menyampaikan dalam mimpi nabi Ibrahim a.s. untuk mengurbankan putranya satu-satunya. Keesokan paginya nabi Ibrahim a,s memutuskan bahwa ia memang harus melaksakanan keinginan Allah tersebut.

Nabi Ibrahim as meminta putranya Ismail as untuk menemaninya ke tempat pengorbanan. Ditengah perjalanan Iblis muncul ke hadapan Ibrahim a.s dan memepertanyakan tentang kehendak Allah.

“Apa benar engkau tega memotong leher satu-satunya putramu sendiri? Bahkan seekor binatang pun tidak akan melakukan hal seperti itu.”

Ibrahim a.s. menjawab, “Walaupun alasanmu tampak masuk akal dan rasional, aku telah menerima perintah Allah dan aku akan melaksanakan kehendak-Nya!”

Iblis segera pergi dari hadapan Nabi Ibrahim a.s. akan tetapi ia tidak menyerah. Ia datang menemui Siti Hajar r.a. ibunda dari nabi Ismail a.s. Iblis mengatakan kepadanya bahwa Ibrahim a.s. akan mengorbankan satu-satunya putra dari siti Hajar.

Siti Hajar pun menjawab bahwa suaminya Ibrahim adalah benar-benar seorang Nabi, yang mengetahui perintah Allah. Ia juga mengatakan bahwa ia rela mengorbankan hidupnya sendiri, jika Allah menghendaki hal tersebut. Lalu Siti Hajar r.a. segera mengusir Iblis dari hadapannya.

Akhirnya, Iblis berusaha mempengaruhi Ismail a.s. Ia muncul dihadapannya dan mengatakan bahwa ayahnya akan mengikatnya di altar dan menyembelih lehernya.

Iblis pun berkata kepada Ismail a.s. bahwa ayahnya telah mengkhayalkan Allah telah memerintahkan hal itu kepadanya. Tetapi Ismail menjawab bahwa ayahnya adalah sungguh-sungguh seorang Nabi yang mengetahui kehendak Allah, yang tidak mungkin mengkhayalkan hal seperti itu. Ismail a.s. mengatakan bahwa ia siap mengorbankan hidupnya sendiri, jika memang itu yang Allah kehendaki.

Sekali lagi, Iblis menanyakan kepada Ismail tentang kesediaannya dipotong lehernya oleh ayahnya.

Dengan marah, Ismail berseru kepadanya, “Apabila Allah telah benar-benar memerintahkan hal ini kepada ayahku, pasti ia telah diberi kekuatan pula untuk melaksanakan kehendak Allah. Dan demikian pula dengan aku!”

Lalu ia mengambil sebutir batu dan melemparkannya ke arah sang Iblis terkutuk itu…

Demikianlah, syetan dan Iblis berusaha menggoda kita dengan cara seperti itu. Ia mencoba menghampiri akal kita, mengemukakan bahwa Allah tidak benar-benar menginginkan kita melakukan hal-hal yang sulit atau berbahaya.

Ia mencoba menghampiri kita lewat kasih sayang kita, bagian dari diri kita yang lunak, menggoda dengan alasan bahwa tugas-tugas tertentu itu terlalu menyakitkan atau terlalu berat bagi diri kita atau orang-orang lain.

Ia mencoba membuat kita bingung, melahirkan keraguan dan membuat kita takut untuk memenuhi kehendak Dia Yang Maha Bijak itu…

Di dalam pelaksanaan haji ke Mekkah, seluruh jama’ah haji pergi ke Mina dan di sana melemparkan batu ke arah tiga buah pilar. Di sanalah, dahulu Nabi Ibrahim a.s. mengorbankan Nabi Ismail a.s. Ketiga pilar itu mewakili ketiga penolakan terhadap Syetan yang terkutuk oleh Nabi Ibrahim a.s., siti Hajar r.a. dan Nabi Ismail a.s.

Kepada setiap pilar, tujuh buah batu dilemparkan. Seorang ulama besar yaitu Syaikh Muzaffer Ozak memaknainya sebagai sebuah simbol penolakan kita terhadap tujuh kualitas diri yang buruk, yaitu; egois, kesombongan, kemunafikan, iri, amarah, riya dan ketamakan.

Ketika mereka tiba di tempat pengorbanan, Nabi Ibrahim as. Bercerita kepada Nabi Ismail a.s. tentang mimpinya. Alih-alih memaksa putranya ke altar, Nabi Ibrahim a.s. malahan menanyakan kepada anaknya apakah ia suka rela memenuhi kehendak Allah dan bersedia mengorbankan dirinya sendiri.

Dalam ketundukkan kepada ayahnya, Nabi Ismail a.s. mengajarkan kepada kita semua tentang keberserahdirian yang luar biasa, sehingga bersedia mengorbankan diri sendiri demi kecintaan kepada Allah dan kepatuhan kepada orang tua.

Walaupun kita seyogyanya bersedia melakukan apa saja dalam kepatuhan kepada orang tua sesuai dengan perintah Allah, kita tidak boleh patuh jka hal yang mereka minta bertentangan dengan kehendak Allah.

Sementara kesopanan dan rasa hormat harus tetap dijaga, kita harus menolak untuk patuh kepada siapa pun yang meminta kita menetang kehendak-Nya.

Nabi Ismail a.s. setuju untuk dikorbankan. Ia mengatakan kepada Nabi Ibrahim a.s. untuk mengikatnya erat-erat dengan tali, sehingga saat ia sekarat nanti— ia tidak akan melukai ayahnya. Ia juga meminta ayahnya untuk menelungkupkan wajahnya, agar Nabi Ibrahim a.s. tidak perlu melihat wajahnya yang dapat membuat tangannya gemetar sehingga tidak sanggup untuk menyembelih dirinya.

Nabi Ismail a.s. juga meminta ayahnya untuk menyingsingkan jubahnya, sehingga ayahnya itu tidak perlu kembali ke rumahnya dengan jubah yang ternodai cipratan darahnya, yang akan menambah kesedihan ibundanya.

Nabi Ibrahim a.s. sepakat dan sangat tersentuh oleh keyakinan dan kasih sayang putranya. Ia meletakan putranya di atas altar dan berdoa kepada Allah agar merahmati dirinya dan diri puteranya.

Ketika Nabi Ibraim a.s. mengangkat pisau pengorbanannya, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya,

“Lihatlah keyakinan dan cinta dari khalil-Ku, hamba-Ku, Ibrahim. Ia bahkan rela mengorbankan putra satu-satunya dalam kepatuhan kepada perintah-Ku.

Akhirnya Allah pun memerintahkan Jibril a.s. agar menggantikan posisi Nabi Ismail a.s. dengan merubahnya menjadi seekor domba jantan, dan Allah menyatakan bahwa keberserah dirian dan keyakinannya Dia Ta’ala terima dan Allah berkenan kepada mereka berdua.

Allah menuntut pengorbanan-pengorbanan kepada semua yang ingin mengenal Dia Ta’ala. Kita diminta untuk bisa mengorbankan bagi-Nya apa-apa yang seringkali kita anggap paling kita cintai, yaitu keterikatan kita kepada materi dunia, kebiasaan-kebiasaan buruk kita dan kesombongan-kesombongan kita..

Kita berkurban adalah kita sedang melakukan sebuah upaya agar diri ini menjadi dekat dengan-Nya…

apapun yang bisa kita kurbankan, apakah pengorbanan harta, tenaga, waktu kita, pengetahuan kita…

jika kita niatkan semata-mata karena keinginan kita untuk dekat dengannya, maka makna qurban dalam bahasa Arab berarti “mendekatkan” dapat kita hayati bersama….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil’hamd…

Hadirin kaum Muslimin dan Muslimat. Para Aa’idiin dan aa’idaat..

Mudah-mudahan di kesempatan perayaan iedul qurban kita tahun ini, walaupun kita tidak memiliki kemampuan untuk mengurbankan sebagian harta untuk membeli domba atau sapi, tapi setidaknya semangat ingin berkurban demi harapan dekat dengan Allah dapat kita wujudkan.

Semangat ingin melakukan sebuah tindakan yang membuat orang lain dimudahkan, saudara kita diringankan bebannya, anak-anak kita dilapangkan jalan menuju ketaatan kepada Allah. Semoga Allah berkenan menerima pengurbanan kita sebagaimana diperkenankannya pengorbanan sang Ibrahim sang Khalilullah, sahabat Allah yang terdekat….
Marilah pada akhir khutbah ini, mari kita menghadap Rabbul’Alamin dengan khusyuk dan khidmat.

Marilah kita sampaikan pengakuan dosa dan kelamahan diri kita di hadapan Allah swt.

Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa ali Muhammad, wa sallim waradiyallahu an kulli shahaabati rasuulillaahi ajma’iin…

“Ya Allah kami berkumpul di hadapanMu, sebagaimana kami akan berkumpul di hadapan-Mu pada hari kiamat nanti. Sekarang Engkau inginkan kami memanggilMu dan memohon ampunanMu. Kelak di hari kiamat Engkau akan mengadili kami dan mempersiapkan azabMu.

“Ya Allah, Engkaulah yang memanggil kami ke sini, Engkaulah yang menuntun kami untuk mensucikan diri. Rabbana, Engkau perintahkan kami untuk memaafkan orang yang menzalimi kami. Kami sudah menzalimi diri kami sendiri, ampunilah kami.

Engkau perintahkan kami untuk bersedkah kepada kaum fuqara di antara kami dan inilah kami, ya Tuhan semua fuqara dihadapan-Mu, berilah kami.

Engkau melarang kami mengusir orang-orang miskin di adapan-Mu,, janganlah Engkau usir kami dari pintuMu.

“Ya Ghafar, dengan cahaya-Mu kami mendapat petunjuk. Dengan karuniaMu kami mendapat kecukupan. Dengan nikmat-Mu, kami masuki pagi dan petang. Dan inilah kami, membawa dosa-dosa kami di hadapanMu.

Ya Allah, kami mohonkan ampunan-Mu. Kami bertaubat kepadaMu.

Engkau limpahi kami dengan kenikmatan, tapi kami melawan-Mu dengan kemaksiatan.

Kebaikan-Mu turun kepada kami dan kejelakan kami naik kepadaMu.

Tidak henti-hentinya malaikat yang mulia mengantarkan kepadaMu kejelekan amal kami. Tapi itu tidak mencegahMu untuk melimpahi kami denga nikmatMu dan untuk memuliakan kami dengan anugerahMu.

Ya Allah, yang memelihara kami dengan karunia dan anugerahMu di dunia dan melindungi kami dengan ampunan dan kemurahanMu di akhirat.

Kami menyeru-Mu, Gusti, dengan lidah yang sudah bisu karena durhaka. Kami memanggilMu, Ya Rabbi, dengan hati yang berlumur dosa. Kami menyeruMu, Rabbana, dengan perasaan galau, takut, cinta, cemas dan harap.

“Rabbi, bila kami melihat dosa kami, kami menggigil ketakutan. Bila kami sadar akan kemurahanMu, kami melonjak kegirangan. Jika Engkau ampuni, Engkau memang pengasih. Jika Engkau menyiksa, Engkau bukan penyiksa yang zalim.

“Rabbana, sekarang ini telah Kau tutup aib dan dosa kami, keluarkan kecintaan kepada dunia dari hati kami. Kumpulkan kami bersama Nabi Al-Musthafa dan keluarganya, dengan para nabi pilihanMu di antara makhlukMu.

Bantulah kami menangisi diri kami. Kami sudah menyia-nyiakan usia kami dengan kelalaian dan angan-angan. Kami sudah menjadi orang-orang yang putus harapan.

“Rabbana, inilah hamba-hambaMu yang sepenuhnya bergantung kepada kasih sayang-Mu. Kasihanilah kelemahan tubuh kami. Ampunilah kesalahan kami dan bersihkanlah hati kami. Bukakan pintu rahmatMu, terimalah do’a-do’a dan amal-amal kami.”

Ya Allah, beri kami kekuatan-Mu untuk dapat menjalankan segala hidup ini dengan penuh keridlaan-Mu, penuh bimbingan-Mu. Ampuni dosa kami, dosa kedua orangtua kami dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihani kami sejak kecil.

Allahumma Innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa pa’fu’anna ya kariim.
Subhaanaka Rabbika Rabbi-l-Izzati ‘amma yashifun wasalaamun ‘allal mursalin walhamdulillahi rabbil ‘alamin

Wassalamu’alaikum wr.wb.

*) Materi ini pernah disampaikan oleh Kuswandani Muhammad Yahdin, pada pelaksanaan Iedul Adha 10 Dzulhijjah 1429H/8 Desember 2008, di Masjid Al-Amin, Pesanggrahan Permai Villa Pramatama Jakarta.

Ayooo…Shalat Dhuha

November 16, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 1:34 pm | Doa... | -

Sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Terdapat sejumlah hadits yang menjelaskan keutamaan pelaksanaan sholat tersebut. Antara lain;

Dari Abu Hurariroh RA, ia berkata:
?Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga perkara: shaum tiga hari setiap bulan, dua rakaat sholat dhuha dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur?
(HR Bukhori 1981, Muslim 721)

Nabi Muhammad SAW bersabda :
” Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, maka tatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : ” Siapakah orang yang suka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamu sekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT. ” ( HR Thabrani )

Dari Abu Dzar RA dari Nabi SAW, beliau bersabda:
?Setiap pagi wajib untuk bershodakoh atas setiap tulang dari kalian. Maka setiap tasbih adalah shodaqoh, setiap tahmid adalah shodaqoh, setiap tahlil adalah shodaqoh, setiap takbir adalah shodaqoh, memerintahkan kebaikan adalah shodaqoh, melarang dari berbuat munkar adalah shodaqoh, dan cukup untuk menggantikan semua itu adalah dua rakaat yang dilaksanakan di waktu dhuha?
(HR. Muslim 720)

Dari Al-Qasim Asy-Syaibani, sesungguhnya Zaid bin Arqom melihat orang-orang yang sedang melaksanakan sholat dhuha. Ia pun berkata: ?bukankah mereka telah mengetahui bahwa sholat di selain waktu ini lebih utama, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ?Sholat Awwabin itu ketika kerikil-kerikil menjadi merah (isyarat yang menunjukkan bahwa matahari telah tinggi dan panasnya telah menyengat)?
(HR> Muslim 748)

Dari Ummu Hani diceritakan, sesungguhnya ia pernah datang kepada Nabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ke tempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambil pakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 ( delapan ) rakaat, yaitu Shalat Dhuha. ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )

“Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga” (H.R. Tirmiji dan Abu Majah)

Do’a selepas sholat dhuha:
“Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan- Mu”. “Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba- Mu yang shaleh”.

Pelajaran Dari Qurban

November 10, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 4:20 am | Thasawuf | -

Bertahun-tahun Ibrahim As. menanti kedatangan seorang anak yang akan
meneruskan perjuangan menegakkan agama Allah di muka bumi. Tatkala
lahir Ismail As. maka betapa senangnya hati seorang Ibrahim As.
mendapatkan buah hati, beliau As. sangat mencintainya, dan secara
manusiawi adalah wajar saja seseorang mencintai buah hatinya yang
telah ditunggu bertahun-tahun.

Namun Allah tak hendak membiarkan hambaNya mencintai seseorang
melebihi kecintaan kepadaNya. Maka Allah memberi petunjuk kepada
Ibrahim di dalam mimpi, Allah memerintahkan: “Wahai Ibrahim,
sembelihlah apa yang sangat engkau cintai!” Lalu Ibrahim memohon agar
Allah mengulangi mimpi itu sehingga tidak ada keraguan di dalam
hatinya, dan Allah mengulanginya sampai dengan malam ketiga: “Wahai
Ibrahim, sembelihlah apa yang sangat engkau cintai!” maka Ibrahim
menyampaikan mimpi itu kepada putra kesayangannya, dan Ismail As.
berkata: “Wahai Bapakku, jika itu adalah perintahNya, maka
lakukanlah, insya Allah aku termasuk golongan orang-orang yang sabar”
(QS. As Shaffaat : 102)

Maka sembelihlah apa-apa yang dapat menghalangi kecintaan kepada
Allah, karena cinta terbesar kita hanyalah kepada Allah (QS.Al
Baqarah : 165) Yang dapat mempengaruhi kecintaan kita kepada Allah
adalah hawa nafsu dan syahwat kita, sehingga tanpa sadar kita
mencintai sesuatu selain Allah karena hawa nafsu kita, bukan karena
cinta kita kepada Allah dan RasulNya.

Di dalam mimpinya, Ibrahim As. melihat dirinya sedang menyembelih
anaknya. Hal itu bisa saja terjadi kepada diri kita, di dalam
riyadhah kita melihat diri kita dikubur atau dimasukkan ke dalam
liang lahat, yang menggambarkan agar matikan kecintaan-kecintaan
kepada selain Allah karena pengaruh diri (nafs).

Kerjakan apapun yang ada di depan kita, di dalam kehidupan sehari-
hari, karena Allah semata (ikhlas) tidak ada pengaruh dari hawa nafsu
dan syahwat kita yang bersumber dari diri kita, untuk itu marilah
kita matikan diri kita (bunuh diri kita / fana, QS. 2 : 54) dan
leburlah bersama Allah, sehingga semua kehendak kita sesuai dengan
kehendakNya.

Terimalah semua nikmat Allah yang telah diberikanNya dengan rasa
syukur kepada Allah semata, dengan berkurban, yang disimbolkan dengan
penyembelihan hewan kurban, biarlah darah dan jiwa yang dikurbankan
melambangkan matinya kecintaan selain Allah yang terpengaruh oleh
hawa nafsu dan syahwat.

Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, maka Aku pun akan bekerja pula
(QS. 39 : 39) Ikhlas bekerja dimanapun kita berada, di kantor, di
lapangan, di hutan, di pasar, atau di dalam rumah sekalipun, maka
Allah akan mengatur apa-apa yang akan terjadi kemudian (tawakkal).

Setiap kali kita menghadapi persoalan hidup, pasti ada hal-hal yang
mengganjal di hati, mungkin sesuatu yang tidak mengenakkan kita, atau
mungkin sesuatu yang menurut kita tidak sesuai dengan kehendak hati
kita, maka bersabarlah di dalam menunggu ketetapanNya, karena mungkin
kehendak hati kita pada saat itu tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Sehingga hal yang paling bijaksana yang harus kita ambil adalah
bersabar dengan keadaan yang tidak selancar dengan yang kita duga
sebelumnya.

Itulah yang sering dinasehatkan oleh Bapak kepada kita semua, bahwa
kita harus selalu teliti dengan S T S I setiap saat, dan dimanapun
kita berada di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semoga kita pun
termasuk golongan yang segolongan dengan Ismail As., yaitu golongan
orang-orang yang sabar. Di dalam buku “Cinta Bagai Anggur”, ditulis:
awal kearifan adalah sabar. Untuk bisa dekat dengan Allah, maka hal
yang utama yang harus ada di dalam jiwa kita adalah SABAR.

Sabar adalah salah satu sifat Allah dari 99 sifat Allah, yaitu Ash
Shabuur ( Yang Maha Penyabar ). Saat Allah meniupkan RuhNya ke dalam
jiwa kita, maka sifat-sifat itu telah ditanamkan Allah kepada jiwa
kita, dan karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan terus menerus,
maka jiwa kita tidak dapat memancarkan cahaya Allah yang berisi sifat-
sifat baik dariNya. “Sifat-sifat baik tidak dianugerahkan kecuali
kepada orang-orang yang sabar dan yang memperoleh keberuntungan yang
besar” (QS. 41 : 53)

Orang-orang yang Mabrur adalah orang yang sabar, karena Allah
menganugerahkan semua sifat-sifat baikNya. Haji yang mabrur adalah
seorang haji yang berkemampuan untuk memancarkan sifat-sifat baik
dari dalam dirinya.