Bahaya Riya

April 21, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 2:28 am | Menata Hati | -

RIYA PENGHAPUS AMAL

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah bahwa Rasulullah
shalallahu alaihi wa salam bersabda:

‘’Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang
yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap
Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya.
Maka Allah bertanya kepadanya, ‘’Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat
tersebut?'’ Maka ia menjawab, ‘’Sungguh aku telah berperang karena Engkau,
sehingga aku mati syahid.'’ Maka Allah berfirman, ‘’Engkau dusta. Akan
tetapi, engkau berperang supaya dikatakan pemberani, dan pujian itu telah
engkau dapatkan,'’ kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan
wajahnya ke dalam api neraka.

Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca
Al-Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), maka diberitahukan
kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya
kepadanya, ‘’Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?'’ Orang
ini menjawab, ‘’Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya,
dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau.'’ Maka Allah berfirman, ‘’Engkau
berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan ‘alim dan membaca
Al-Qur’an supaya dikatakan qarri’, dan pujian itu telah engkau dapatkan.'’
Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api
neraka.

Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah, maka Allah memberikan
kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini didatangkan (menghadap
Allah). Diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya.
Maka Allah bertanya kepadanya, ‘’Apa yang telah engkau lakukan di dalam
nikmat tersebut?'’ Orang ini menjawab, ‘’Tidaklah aku meninggalkan satu
jalan yang Engkau cintai atau diinfakkan di dalamnya, kecuali aku
menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,'’ maka Allah berfirman,
‘’Engkau dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan, dan
pujian itu telah dikatakan.'’ Kemudian orang ini diperintahkan agar
dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. (HR Muslim)

Apa yang menyebabkan tiga orang ini dicampakkan Allah ke dalam neraka
jahannam? Bukankah mereka telah melakukan amalan-amalan yang mulia? Bukankah
mereka telah bersusah payah melakukannya? Tiada lain karena mereka melakukan
semua itu bukan karena Allah, tapi karena ingin dipandang oleh manusia.

Jihad di Jalan Allah

Jihad, merupakan amalan yang mulia, bahkan sebagaimana disabdakan oleh
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

‘’Dan puncak agama adalah jihad fi sabilillah.'’ (HR Tirmidzi)

Dan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

‘’Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu
mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.'’
(QS Al-Baqarah: 154)

Dan masih banyak lagi ayat maupun hadits yang menjelaskan keutamaan jihad
dan orang yang mati syahid. Akan tetapi, tatkala amalan yang agung ini
dicampuri dengan perbuatan riya’, maka hilanglah pahalanya. Dari sini, maka
kita perlu mengetahui yang disebut dengan jihad fi sabilillah dan
ciri-cirinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan
sahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: Seorang Badui datang kepada
Rasulullah dan bertanya, ‘’Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena
harta rampasan, seseorang berperang karena ingin terkenal, dan seseorang
berperang agar dilihat oleh manusia. Siapakah yang di jalan Allah?'’ Maka
Rasulullah menjawab,

‘’Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada
di jalan Allah. (muttafaqun ‘alaih).

Inilah jihad yang sebenarnya, yaitu tidak ada tujuan lain, kecuali dalam
rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Mencari dan Mengajarkan Ilmu serta Membaca Al-Qur’an

Selanjutnya diantara orang yang pertama akan dihakimi oleh Allah adalah
seseorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang membaca
Al-Qur’an. Tiga amalan ini merupakan amalan yang sangat mulia dan banyak
pahalanya. Akan tetapi, tatkala tiga amalan tersebut bukan karena Allah
semata, maka menjadi hilanglah pahalanya, bahkan pelakunya diancam oleh
Allah dengan neraka. Dalam sabdanya, Rasulullah mengancam seseorang yang
mencari ilmu bukan karena Allah,

‘’Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya diharapkan wajah Allah,
kemudian dia tidak mempelajarinya, kecuali karena ingin mendapatkan dunia,
maka dia tidak akan mencium bau surga dan pada hari kiamat. (HR Abu Dawud).

Berinfaq di Jalan Allah

Adapun orang yang ketiga adalah orang yang berinfak. Banyak ayat-ayat maupun
hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya firman
Allah:

‘’Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus
biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 261)

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

‘’Baransiapa yang bersedekah dengan seukuran buah kurma dari hasil usaha
yang halal -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka Allah akan
menerima dengan tangan kanannya, kemudian akan mengembangkan (shadaqah
tersebut) untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang diantara kalian
mengembangkan anak kudanya, sehingga menjadi seukuran gunung uhud
(muttafaqun alaih).

Ini merupakan keutamaan besar yang Allah berikan kepada orang-orang yang mau
bersedekah. Akan tetapi, apabila seseorang menginfakkan hartanya bukan
karena Allah, yang karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka didapat
bukan pahala, tetapi siksa dari Allah.

Khatimah

Hadits yang disebutkan di atas menunjukkan pentingnya masalah ikhlas dalam
beribadah, dan menunjukkan betapa berbahayanya perbuatan riya’, hingga dapat
menghapus amalan yang dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, riya’
termasuk perbuatan yang sangat ditakutkan Rasullah, sebagaimana sabda Beliau
shalallahu alaihi wa salam:

‘’Sesungguhnya yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik ke
cil. Beliau ditanya tentangnya, maka Beliau mejawab, yaitu riya’ (HR Ahmad).

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada umatnya agar
selalu meminta perlindungan Allah dari perbuatan syirik, baik yang besar
maupun yang kecil. Ketahuilah, bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat
diterimanya ibadah seseorang. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang,
kecuali jika hanya diberikan kepada Allah.

Semoga amalan Allah melindungi kita dari perbuatan riya’ dan menjadikan kita
sebagai orang yang ikhlas. Amin

Sumber:
Bonus Khutbah Jum’at Majalah As Sunnah Edisi 02/VII/1424 H

Positive Thinking

editor : yoedha pamungkas @ 1:31 am | Menata Hati | -

Membangun Positive Thinking

Kecemasan jiwa selalu menempati posisi puncak di antara beberapa penyakit masa kini. Buku-buku dan penelitian-penelitian yang membahas tema ini sudah banyak. Meskipun begitu, fenomena kecemasan ini terus berlangsung.

Islam telah mengatasi persoalan ini dengan antisipasi penyembuhan yang telah dikenal sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Berikut ini adalah beberapa kiat Islam dalam membangun sikap positive thinking sehingga kita terhindar dari kecemasanjiwa.

Luruskan Pikiran Anda

Allah berfirman,

”…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)

Ayat Al-Qur`an di atas adalah hukum perubahan dalam kehidupan di dunia. Oleh karenanya, keadaan Anda tidak akan berubah dari satu kondisi menjadi kondisi yang lain, kecuali dengan peran tangan Anda sendiri. Demikian pula dengan mukjizat. Memang, semuanya hanya akan terjadi dengan takdir Allah, namun dalam menjadikan segala sesuatu itu, Allah menggunakan sebab. Selama Anda belum mengenal hukum perubahan ini dengan baik, maka segala upaya Anda untuk mengatasi rasa cemas atau agar terbebas dari kesusahan, tidak akan berguna. Anda tidak akan mampu terbebas dari rasa cemas kecuali jika Anda sendiri bersikeras untuk mengatasi hal ini. Anda harus berusaha untuk mencari jalan agar terbebas dari rasa itu. Akan tetapi, bagaimana hal itu dapat terwujud?

Semua itu dapat terwujud dengan mengubah dan meluruskan gaya berpikir Anda. Anda tidak akan merasa bahagia jika memenuhi kepala Anda dengan pikiran kesedihan dan beberapa kesusahan yang berat untuk dipikul.

Hidup Anda tentu merupakan hasil berpikir Anda. Oleh karena itu, dengan kapasitas Anda, Anda dapat mengubah jalan hidup Anda dengan cara mengubah jalan berpikir Anda. Dengan kapasitas Anda pula, Anda bisa sakit atau juga menikmati sehat.

Hilangkan Penyakit Hati

Sering kali, kita sendirilah yang membuat rasa cemas terjadi pada diri kita. Juga kita sendiri yang memilih terjadinya kesusahan dan kesedihan. Bahkan lebih dari itu, mungkin ada di antara kita yang menyiksa diri dengan penyakit hati pada diri kita. Penyakit ini tentu bukan karena virus atau sejenis mikroba, akan tetapi penyakit akibat adanya kerusakan pikiran kita dan akibat sedikitnya iman kita kepada Allah swt..

Salah satu contoh penyakit tersembunyi ini adalah iri. Orang yang berpenyakit iri, akan lebih menyakiti dirinya sendiri daripada menyakiti orang lain. Orang yang iri ini akan menyiksa diri sendiri karena suatu hal yang bukan miliknya.

Saudara sesama muslim, jauhilah sifat iri. Larilah jauh-jauh dari hal itu seperti Anda lari karena takut singa. Jangan pernah iri kepada seseorang yang telah Allah berikan karunia-Nya. Dengan iri itu, Anda telah menyalahkan keadilan Allah azza wa jalla, Allah Mahatinggi dari semua itu. Jika Anda iri, maka seakan-akan Anda mengatakan kepada Allah, “Engkau telah memberi kepada seseorang yang tidak berhak menerimanya dan Engkau malah meninggalkanku.” Astagfirullah. Apakah Anda ingin Anda sendirilah yang membagi-bagi rezeki?

Cintailah Orang Lain Seperti Mencintai Diri Sendiri

Ini bukan sekadar nasihat dan bukan sekadar kata-kata hikmah. Ini merupakan obat jiwa dari sekian banyak penyakit jiwa yang ada. Ini juga merupakan hukum untuk membawa kebahagiaan bagi jiwa manusia, bahkan sesungguhnya, perkataan ini merupakan ucapan manusia pilihan, yaitu Nabi Muhammad saw.. Merupakan hal yang sangat penting jika kita memegang teguh sabda di atas karena jiwa manusia akan menjadi baik bila berpegangan dengan perkataan ini. Keimanan seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan menjalankan makna perkataan ini. Rasulullah saw. bersabda,

“Salah seorang dari kalian tidak dikatakan beriman, hingga mencintai saudaranya seperti halnya mencintainya dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

Ketika Anda mencintai saudara Anda seperti Anda mencintai diri sendiri, dada Anda akan terasa lapang, jiwa Anda terasa tenang, dan Anda akan merasakan puncak kepuasan. Hanya dengan itulah Anda akan merasakan manisnya iman. Manisnya iman ini tidak dapat dirasakan dengan lisan, melainkan dengan hati. Anda juga akan merasakan kebahagiaan jiwa yang menyeluruh. Tahukah Anda mengapa hal ini dapat terjadi? Karena kebahagiaan Anda menjadi bertambah, ketika Anda melepaskan diri dari rasa benci dan memenuhinya dengan rasa cinta. Kebahagiaan Anda menjadi bertambah ketika Anda menanggalkan titik-titik hitam. Titik-titik hitam ini bisa berupa rasa dengki, benci, dendam, iri, dan lain sebagainya.

Jangan Sedih dengan Masa Lalu, Pikirkan Masa Kini

Anas r.a. berkata Rasulullah saw. bersabda,

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kesusahan dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari perasaan lemah dan malas, dari rasa takut dan bakhil, dari terjepit oleh utang dan penguasaan orang-orang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adanya perasaan sedih karena masa lalu, juga karena mengingat peristiwa masa lalu yang tidak mungkin kembali lagi merupakan suatu kelemahan yang akan menjadikan seseorang merasa terus terbelenggu dan hanya akan menjadikannya lemah dan tak berdaya.

Karena itulah, Rasulullah saw. melarang kita untuk menyesali hal-hal keduniaan yang terjadi pada masa lalu. Rasulullah saw. juga melarang seseorang mengatakan, “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya….”

Rasulullah saw. bersabda,

“Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini-begini.’ Katakanlah, ‘Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki maka itu terjadi.’ Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR Muslim)

Tidak menyesali masa lalu bukan berarti seseorang tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu yang bermanfaat baginya. Maksud hadits Rasulullah saw. di atas adalah membimbing seorang muslim agar bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu yang bermanfaat baginya lalu agar meminta pertolongan Allah dalam hal ini. Hadits ini kemudian menjelaskan pula bahwa barangsiapa yang meminta pertolongan Allah, maka ia selamanya tidak akan menjadi lemah. Dalam hadits ini, ada motivasi bagi seorang muslim agar percaya diri atas kesuksesannya dan agar tidak berputus asa.

Wallahu a’lam bish-shawwab

disadur dari Buku Membangun Positive Thingking

Sakit di hati Sakit di jasad

April 12, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 6:25 am | Menata Hati, Kisah Dari Sahabat..., Islam & Kesehatan | Komentar (1)

Hubungan penyakit hati dan penyakit jasad.
Denny Prasetya T./Wong Cirebon

Saudaraku, ada hadits yang sangat terkenal:
Di dalam diri manusia ada segumpal daging yang apabila ia shalih maka shalih-lah seluruhnya, jika ia fasad (rusak) maka fasad-lah seluruhnya. Ingatlah bahwa dia itu adalah qalb.

Qalb adalah bentuk mashdar dari akar kata qalaba-yaqlibu-qalban yang berarti membalikkan atau memalingkan. Dalam banyak kamus Arab-Indonesia, kata qalb bila berdiri sendiri bararti hati, jantung atau akal.

Apabila makna qalb tersebut dihubungkan dengan fisiologi jantung dalam tubuh manusia, kita jumpai bahwa kata-kata membalikkan, merubah, merobohkan, mengganti, dan memutarkan menunjukkan fungsi jantung. Dalam tubuh manusia, jantung berperan sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh dari ujung hingga ke ujung. Darah yang dipompa dan mengalir dalam tubuh bersirkulasi dari jantung dan kembali lagi ke jantung. Darah membawa zat-zat yang diperlukan oleh tubuh sebagai energy atau tenaga. Maka jika jantung berhenti memompa darah, tubuh akan lemas bahkan bisa mati.

Alasan bisa diartikan dengan jantung, sebab Nabi SAW. menyebutnya dengan segumpal daging yang menjadi standar bagi sehat atau sakitnya tubuh. Seorang penulis Mesir menulis sebuah buku tentang kedokteran Islam. Ia merujuk pada hadis tersebut untuk menunjukan peran jantung dalam seluruh mekanisme tubuh kita. Alasan bisa diartikan dengan hati oleh sebab hadis tersebut sesungguhnya merupakan akhir dari pembicaraan tentang haram, halal, dan syubhat.

Dari Abi Abdillah Al-Nu’man ibn Basyir r.a. berkata bahwa Dia pernah mendengar Rasulullah Saw.bersabda:
Sesungguhnya yang halal telah jelas, yang haram telah jelas dan antara keduanya adalah hal-hal syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui banyak orang. Barang siapa yang menjaga diri dari hal-hal syubhat, maka ia benar-benar melakukan pembebasan bagi agama dan harga dirinya. Barangsiaa terjerumus pada hal-hal yang syubhat, maka ia pasti akan terjerumus pada yang haram. Seperti seorang penggembala yang menggembalakan di sekitar tempat terlarang, sehingga hampir saja ia masuk ke padanya. Ingatlah bahwa setiap raja memiliki tempat terlarang. Ingatlah bahwa tempat larangan ALLAH ialah hal-hal yang diharamkanNya. Ingatlah di dalam diri manusia ada segumpal daging yang apabila ia shalih maka shalih-lah seluruhnya, jika ia fasad (rusak) maka fasad-lah seluruhnya. Ingatlah bahwa dia itu adalah qalb.

Dalam hadis Riwayat Ibn Majah dari Abu Musa, Nabi Muhammad Saw.dikatakan, “perumpamaan qalb bagaikan sehelai bulu yang dibolak-balikkan angin di tanah lapang”.
Dan karena makna ini, Hemat al-Qurthubi, Rasulullah Saw.sering bermunajat dengan do’a ini “Allahumma yaa mutsabbita al-qulub, tsabbit qulubanaa `ala tha’atika”- Wahai Zat yang menstabilkan qalb (hati), stabilkan qalb kami pada ketaatan kepada-Mu”.

Ada ulama mengemukakan alasan mengenai hati yang bersifat psikis (qalb) dinamai qalbu. Imam Al-Ghazali mengemukakan karena perubahannya melebihi kecepatan mendidih air dalam kuali. Dikatakan dalam syair, “Qalbu dinamai dengan qalbu hanyalah karena bolak-baliknya, sedangkan pemikiran membuat manusia mencapai banyak derajat.”

Saya hendak menyatakan, bahwa terdapat hubungan yang sangat berkaitan antara qalb dengan organ tubuh manusia.

Agar kita tetap sehat, maka mulai sekarang mari kita menjaga qalb atau hati kita tetap sehat

Menurut Imam Al Ghazali, Qalb terdiri dari:
Empat Jenis Qalb:

Qalb itu ada empat macam:
1.Qalb yang bersih, padanya pelita yang bersinar gemilang. Maka itulah Qalb Al-Mumin.
2.Qalb yang hitam terbalik, maka itulah Qalb Al-Kafir.
3.Qalb terbungkus yang terikat dengan bungkusnya, maka itulah Qalb Al-Munafiq.
4.Qalb yang melintang, padanya keimanan dan ke-nifaq-an.

Mengapa Qalb yang Bersih Diperlukan?

Orang bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah! Di manakah Allah? Di bumi atau di langit ? Rasulullah saw. menjawab, “Allah Ta’ala berfirman:

“Tidak termuat Aku oleh bumi-Ku dan lelangit-Ku, dan termuat Aku oleh qalb hamba-Ku yang Mu’min, yang lemah-lembut, yang tenang-tenteram”
- Hadist Nabi saw -

” .. Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan
dan menjadikan iman itu indah dalam qalb-mu .. ”
- QS. Al Hujuraat [49]: 7

” .. mereka itulah orang-orang yang telah dituliskan
dalam qulub mereka al-’Iman.”
- QS. Al Mujaadilah [58]: 22

Penyakit Hati
Ini berarti mengapa Qalb yang bersih diperlukan, karena Qalb merupakan tempat cahaya Iman. Sedangkan yang menyebabkan Qalb menjadi kotor adalah penyakit hati.

QS. Yunus:57
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Sebab-sebab Qalb Terhijab:
• Mencintai kehidupan dunia.
• Mempertuhankan hawa-nafsu.

Imam Ja’far Ash Shidiq seperti dikutip dalam buku Tao of Islam (Mizan, 1996), mengklasifikasikan hawa nafsu ini menjadi 75 jenis, beberapanya a.l.:
Jahat (wazir kebodohan)
Kekafiran
Penyangkalan
Keputusasaan
Ketidakadilan
Kemarahan
Mengeluh
Kecil hati
Keserakahan
Kekejaman
Kemurkaan
Kebodohan
Kepandiran
Tak kenal malu
Kerinduan
Kelancangan
Kesombongan
Dendam
Kemiskinan
Pengunduran diri
Permusuhan
Kekasaran
Kebencian
Pelanggaran janji
Curang
Kejorokan
Ketidakpedulian
Ketergesa-gesaan
Keras kepala
Dan lain-lain

Semua ini disebut penyakit hati, yang akan menyebabkan penyakit jasmani, wallahu’alam

Seputar Ujian Di Kehidupan Kita

March 15, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 9:42 am | Menata Hati | Komentar (1)

Ujian dari Allah Lewat Pendamping Hidup.

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), bagi mereka laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi kepada mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).”
(QS An Nuur [24] : 23-25)

“(Pada hari pembalasan itu / akhirat) Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
(QS An Nuur [24] : 26)

Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya, begitu seterusnya. Lalu, mengapa Al Qur’an menuturkan pula bahwa ada hamba-hamba Allah yang sangat shaleh, yakni Nuh As dan Luth As, memiliki istri yang durhaka kepada Allah SWT. Juga wanita shalehah seperti Asiyah, ternyata bersuamikan Fir’aun, orang yang sangat ingkar kepada Allah SWT. Walaupun, ada juga yang keduanya shaleh, seperti Rasul SAW dan istri-istrinya. Dan ada yang keduanya durhaka, seperti Abu Jahal dan istrinya.

Bila kita telaah lebih jauh, surat An Nuur ayat 26 diatas ternyata diawali oleh ayat-ayat (23-25) yang menceritakan tentang balasan kehidupan di akhirat kelak. Artinya, kondisi pada ayat 26 tersebut hanyalah berlaku di akhirat, tidak berlaku untuk kondisi di dunia.

Buktinya, dalam kehidupan nyata sehari-hari pun, tak bisa kita pungkiri bahwa tak sedikit wanita shalehah yang memiliki suami yang tidak shaleh atau sebaliknya. Maha Suci Allah dari berbuat dzalim. Dunia memang diciptakan Allah hanyalah sebagai tempat untuk menguji manusia, apakah kita hamba Allah atau bukan, bertakwa atau tidak, layak memasuki surga atau tidak. Karena itu, karakter pasangan seperti apapun yang ditakdirkan Allah untuk kita, maka hal itu pun merupakan ujian bagi kita.

Karena dunia ini hanyalah tempat ujian, bukan tempat pembalasan amal perbuatan, maka keadilan memang tak selalu ada di dunia. Berbeda dengan kehidupan akhirat, perbuatan baik atau buruk sekecil apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan dibalas dengan seadil-adilnya oleh Allah Yang Maha Adil di akhirat kelak.

Justru, salah satu ujian di dunia ini adalah bagaimana kita menyikapi ujian lewat pendamping hidup kita yang masih jauh dari Allah. Ini merupakan salah satu cara untuk menentukan siapa yang tetap teguh pada kebaikan dan siapa yang menyimpang dari jalan-Nya.

Selain itu, dalam perbincangan seputar memilih pendamping hidup pun, seringkali diungkapkan bahwa, “Bila kita menginginkan pasangan yang shaleh, maka kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu agar menjadi wanita shalehah. Harapannya, agar kita bisa mendapatkan pasangan yang shaleh pula.”

Tidak salah ungkapan terebut, hanya saja upaya untuk membentuk karakter shalehah dalam diri bukan sekadar agar mendapatkan pasangan yang shaleh, tapi harus ditujukan semata-mata untuk menghambakan diri kepada Allah SWT, karena sudah selayaknya setiap mahluk di langit dan di bumi tunduk dan patuh kepada-Nya.

Ungkapan diatas bisa jadi dilatarbelakangi karena memahami Surat An Nuur ayat 26 (yang menyebutkan bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan wanita yang keji untuk laki-laki yang keji) sebagai suatu kondisi yang juga akan terjadi juga dalam kehidupan di dunia, padahal tidak demikian halnya.

Semoga Allah SWT menuntun kita agar menjadi seorang muslim yang shaleh dan shalehah, menjadi hamba Allah yang senantiasa memurnikan ketaaatan kepada-Nya. Wallahu’alam.

Jaga Mata! = Jaga hati!

March 9, 2009

editor : yoedha pamungkas @ 4:06 am | Menata Hati | -

Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula.

Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 30-31 Allah swt berfirman:”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “(QS. An Nuur: 30-31).

Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”.
Hati berkata kepada Mata: “Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, “Hendaklah mereka menahan pandangannya” (An-Nur 30), dan kau salahi sabda Rasulullah Saw yang artinya, “Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya”. (H.R. Ahmad)”.
Kemudian mata menjawab dan menyanggah perkataan hati.
Mata berkata: “Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi budak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda:”Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati.” (H.R. Bukhori Muslim).

Abu Hurairah Ra. Berkata, “Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya”. Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu (wahai hati), dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.”Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi.Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita. Tentang menahan pandangan mata, Imam Ibn al-Qoyyim mengatakan dalam kitabnya, al-Jawab al Kafi hal. 129:“Pandangan mata adalah duta syahwat. Menjaga pandangan adalah pangkal penjagaan farj (kemaluan).

Barang siapa melepas bebas pandangan matanya, berarti telah mengiring dirinya menuju lubang-lubang kehancuran.
Nabi saw bersabda: Artinya: “Wahai Ali, janganlah engkau turutkan kilasan pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya). Tidak mengapa untukmu kilasan awal pandangan.”Maksud ‘kilasan’ awal pandangan adalah kilasan pandangan spontanitas yang terjadi tanpa kesengajaan” Imam Ibn Qoyyim mengatakan didalam musnad al-imam ahmad ibn hambal, tertera hadist dari Rasulullah saw:
“Pandangan mata itu laksana anak panah yang beracun dari anak panah-anak panah iblis”

Selanjutnya beliau (Imam Ibn Qoyyim) mengatakan: “Pandangan mata adalah pangkal segala bencana yang menimpa manusia, karena pandangan itu melahirkan detikan hati; detikan hati melahirkan pikiran melayang; pikiran melayang melahirkan nafsu birahi; nafsu birahi melahirkan hasrat; hasrat itu kemudian menguat sampai menjadi tekad yang kuat. Karenanya, tidak boleh tidak, akan terjadilah perbuatan, selagi tidak ada sesuatu hal yang menghalangi”. Oleh sebab itu, ada pujangga yang mengatakan: “Bersabar menahan pandangan mata adalah lebih mudah daripada bersabar terhadap pedihnya derita setelah pandangan itu”.

Karena itu sudah sewajarnya kita menahan pandangan mata dari memandang lelaki atau memandang wanita. Hendaklah kita tidak melihat gambar-gambar yang yang merangsang, yang dipancang di sebagian majalah atau digelar di layar televisi maupun video. Dengan itu, niscaya kita selamat dari dampak buruk. Berapa banyak kilasan pandangan mata yang menyeret seseorang menuju penyesalan dan kegelisaan yang tak berujung. Gejolak api yang membara terjadi akibat percikan api yang dipandang kecil.Oleh karena itu, sepatutnyalah kita sebagai manusia yang lemah selalu berdo’a dan memohon kepada Allah swt agar Ia selalu membimbing hati-hati kita, dan agar kita mampu membimbing hati-hati kita kejalan yang Ia ridhoi. Dan semoga kita mampu membawa dan menjaga amanah nikmat memandang, sehingga kita tidak menyalahi anugrah terbesar ini untuk melihat hal-hal yang tidak Ia ridhoi.Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan mata/ pandangan kami kearah yang Engkau ridhoi. Jauhkan kami dengannya menuju penglihatan dari pandangan-pandangan yang Engkau haramkan sehingga menyebabkan kami terjerumus kejurang maksiat..

Allaahumma ‘aafina fii badaninai, Allaahumma ‘aafina fii sam’ina, Allahumma ‘aafina fii qolbinaa, Allaahumma ‘aafina fii bashorina. Aamiin.